Senin, Juni 27, 2022
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirPerbedaan keutamaan surah-surah Al-Qur’an dan keutamaan surah Al-Fatihah

Perbedaan keutamaan surah-surah Al-Qur’an dan keutamaan surah Al-Fatihah

Perbedaan keutamaan surah-surah Al-Qur’an dan keutamaan surah Al-Fatihah

Nash-nash Al-Qur’an yang mencakup tauhidullah ta’ala (pengesaan Allah) dan nama-nama dan sifat-sifatNya, lebih utama diabandingkan kalamNya tentang selainnya. Maka

 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

(katakan, Dia Allah yang Maha Esa), lebih utama daripada firman-Nya,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

 Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

Perbedaan keutamaan di antara surah-surah dan ayat-ayat ini tidak ditinjau dari penisbatannya kepada yang berbicara. Sebab yang mengatakan semua itu adalah Allah ta’ala. Akan tetapi perbedaab itu ditinjau dari segi makna-makna yang dikandungnya, serta ditinjau dari segi makna yang dikandugnya. Nash-nash dan atsar-atsar yang mengutamakan sebagian kalam Allah ta’ala atas sebagian lainnya sangatlah banyak.

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar menemui Ubay bin Kaab, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Ubay,” dan saat itu beliau sedang shalat. Ubay menoleh tapi tidak menjawab. Lalu Ubay shalat dan mempersingkat shalatnya. Kemudian dia berpaling kepada rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata, “salam atasmu, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Dan salam atasmu. Apa yang mencegahmu wahai Ubay untuk menjawabku ketika aku memanggilmu?” Dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tadi sedang shalat.” Beliau bersabda, “Apakah engkau belum mendapatkan pada apa yang diwahyukan Allah padaku, bahwa ‘penuhilah seruan Allah dan Rasulnya apabila Rasul memanggilmu terhadap apa yang menghidupkan kamu.” (Al-Anfal: 24). Dia berkata, “Tentu, dan aku tidak akan mengulanginya insya Allah.” Beliau bersabda, “Apakah engkau mau aku ajarkan surah yang belum diturunkan dalam Taurat, Injil, Zabur, dan tidak pula dalam Al-Qur’an yang sepertinya.” Dia berkata, “Bagaimana engkau membaca dalam shalat?” Dia bersabda, “Beliau membacakan Ummul Qur’an.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tanganNya, tidak pernah diturunkan dalam Taurat, Injil, Zabur, dan tidak pula dalam Al-Qur’an yang semisalnya. Sungguh ia adalah tujuh yang terulang-ulang dan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.” Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Allamah Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah. (Sunan At-Tirmidzi, No. 2875, dan Shahih Sunan At-Tirmidzi, 3/3)

Al-Bukhari meriwayatkan pula dalam Shahihnya, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُمُّ القُرْآنِ هِيَ السَبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ

“Induk Al-Qur’an, ia adalah tujuh yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an yang Agung.” (Shahih Al-Bukhari, No. 4704)

Dari sini, menjadi sesuatu yang sangat ditekankan bagi setiap mulia ini, baik menghapal, mempelajari, maupun tadabbur (merenung Muslim, untuk memberi perhatian lebih serius terhadap surah yang kan). Seorang Muslim membacanya dalam shalat fardhu sehari semalam sebanyak tujuh belas kali. Apabila dia mengerjakan pula shalat-shalat sunah atau sebagian besar shalat sunah, berarti dia membaca surah itu berulang kali, tidak ada yang bisa menghitungnya sepanjang umurnya dan selama usianya, kecuali Allah ta’ala. Namun sangat disayangkan, meski demikian keadaannya, Anda masih saja mendapati di antara kaum Muslimin, seseorang yang tidak bisa membaca surah mulia ini dengan baik, bahkan terkadang dia mengucapkan tidak fasih sehingga merusak maknanya, atau menghilangkan makna yang dikandungnya, atau Anda melihat di antara mereka orang-orang yang tidak memberi perhatian untuk mencermatinya, memahaminya, dan memikirkan makna-maknanya, serta mengetahui indikasi-indikasinya.

Perkara yang wajib bagi hamba-hamba Allah yang beriman seluruhnya, adalah mengagungkan surah mulia ini, menghormatinya sebagaimana mestinya, dan membacanya dengan sebaik-baiknya. Sebab ia adalah surah yang paling agung dalam Al-Qur’an dan paling diwajibkan atas umat. la paling merangkum semua yang dibutuhkan seorang hamba dan paling banyak manfaatnya.

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah  berkata, “Demi Allah, tidaklah engkau men- dapatkan perkataan yang rusak dan bid’ah yang bathil, melainkan faatihatul kitab (surah Al-Fatihah) memuat bantahan terhadapnya dan membatalkannya, dengan cara yang paling praktis, paling Shahih, dan sangat jelas. Tidak pula Anda mendapatkan satu permasalahan penge- tahuan tentang Allah , amal-amal hati, obat-obat hati, penyakit- penyakit dan sakit-sakit yang dideritanya, melainkan dalam surah Al-Fatihah terdapat kuncinya dan letak petunjuk kepadanya. Begitu juga tidak ada satu fase dari fase-fase perjalanan menuju Rabb semesta alam melainkan permulaan dan pengakhirannya terdapat di dalam surah Al-Fatihah. Sungguh demi Allah, urusan surah Al-Fatihah lebih agung dari pada itu, dan di atas dari semuanya. Jika seorang hamba merealisaskannya, berpegang padanya, memahami konsekuensinya sebagaimanmestinya, lalu dia  terjerumus dalam bid’ah, syirik, atau ditimpa salah satu penyakit hati, melainkan jal itu sifatnya berupa sentuhan sementara dan tidak akan menetap.” (Zaadul Ma’ad, 4/347-348)

Dengan ini kita telah sampai pada akhir apa yang ingin di jelaskan di tempat ini, seraya memuji Allah, menyanjungnya dengan sanjungan yang patut baginya, dan dengan sanjungan-Nya atas diri-Nya, pujian yang tidak pernah merasa cukup, tidak diingkari, dan tidak pula ditinggalkan, serta tidak pernah merasa tak butuh kepada Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER