asd
Rabu, Juli 24, 2024
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirKEUTAMAAN MEMPERBANYAK DZIKIR KEPADA ALLAH SUBAHANAHU WATA’ALA

KEUTAMAAN MEMPERBANYAK DZIKIR KEPADA ALLAH SUBAHANAHU WATA’ALA

KEUTAMAAN MEMPERBANYAK DZIKIR KEPADA ALLAH SUBAHANAHU WATA’ALA

Allah telah memerintahkan dalam kitab-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar memperbanyak dzikir kepada-Nya, baik ketika berdiri, duduk, dan berbaring, ketika malam maupun siang, di daratan maupun lautan, saat safar maupun mukim, waktu kaya maupun miskin, ketika sehat maupun sakit, rahasia maupun terang-terangan, dan di segala keadaan. Lalu diberikan kepada mereka disebabkan oleh dzikir berupa ganjaran yang melimpah, pahala yang besar, dan tempat kembali yang indah. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا. تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا

“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang. Dia-lah yang bershalawat atas kamu dan malaikat-Nya untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan Dia sangat penyayang terhadap orang-orang beriman. Salam penghormatan mereka pada hari berjumpa dengan-Nya adalah salam, dan Dia menyiapkan untuk mereka ganjaran yang mulia.” (QS. Al-Ahzab/33: 41-44)

Pada ayat ini terdapat anjuran memperbanyak dzikir pada Allah, penjelasan apa yang didapatkan atas hal itu berupa pahala yang agung dan kebaikan yang menyeluruh. Sedangkan firman-Nya, “Dia-lah yang bershalawat atas kamu dan malaikat-Nya,” merupakan sebesar-besar motivasi untuk memperbanyak dzikir kepada Allah , dan sebagus-bagus anjuran kepada hal itu. Yakni, Allah menyebut-nyebut kamu, maka hendaklah kamu berdzikir kepada-Nya. Ini serupa dengan firman-Nya:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Sebagaimana Kami utus di antara kamu Rasul dari kalangan kamu, membacakan kepada kamu ayat-ayat Kami, mensucikan kamu, mengajarkan kamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan mengajarkan pada kamu apa-apa yang kamu belum ketahui. Berdzikirlah kepada-Ku niscaya aku akan menyebut kamu serta bersyukurlah pada-Ku dan jangan ingkar.” (QS. Al-Baqarah/2: 151-152)

Jadi, suatu balasan adalah sesuai dengan jenis perbuatan. Barang siapa dzikir kepada Allah pada dirinya, maka Allah Ta’ala menyebutnya pada diri-Nya. Barang siapa dzikir kepada Allah di tengah khalayak manusia, maka Allah menyebutnya di khalayak yang lebih baik daripada mereka. Sedangkan orang yang lupa Allah, niscaya Allah melupakannya.

Orang-orang yang banyak berdzikir pada Allah mendapatkan keberuntungan yang besar dan bagian yang sempurna berupa penyebutan Allah terhadap mereka. Begitu pula shalawat Allah atas mereka dan para malaikat-Nya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhu- tentang makna ayat itu bahwa beliau berkata, “Apabila kamu melakukan hal itu; yakni memperbanyak dzikir kepada Allah; niscaya Allah akan bershalawat kepada kamu dan juga para malaikat-Nya.”

Shalawat Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang disebutkan itu adalah pujian atas mereka di khalayak tertinggi di sisi malaikat yang mulia lagi baik-baik. Sedangkan shalawat malaikat atas mereka bermakna doa bagi mereka serta permohonan ampunan. Seperti firman Allah Ta’ala:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَن تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Malaikat-malaikat) yang membawa Arsy dan malaikat yang berada disekitarnya bertasbih memuji Rabb mereka dan beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. (Mereka mengucapkan): Wahai Rabb kami, Engkau telah meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu. Berilah ampunan untuk orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu serta lindungilah mereka dari azab neraka yang bernyala-nyala. Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke surga-surga ‘Adn yang Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang yang baik di antara bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan- keturunan mereka. Sungguh Engkaulah adalah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Lindungilah mereka dari keburukan-keburukan. Barang siapa terlindung dari keburukan pada hari itu, maka sungguh Engkau telah merahmatinya. Itulah keberuntungan yang agung.” (Ghafir: 7-9)

Imam Bukhari rahimahullah telah menyebutkan dalam kitab Shahihnya dari Abu Al-Aliyah rahimahullah, bahwa dia berkata tentang makna firman Allah Subhanahu wata’ala:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat atasnya dan berilah salam dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Ahzab/33: 56)

Shalawat Allah adalah pujian-Nya atas beliau di hadapan para malaikat. Sedangkan shalawat para malaikat adalah doa. (Shahih Al-Bukhari, Kitab At-Tafsir, 6/326)

Syaikh Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Minimal dari hal itu adalah seseorang komitmen dengan wirid-wirid pagi dan petang, setelah shalat-shalat lima waktu, dan ketika ada faktor-faktor tertentu dan kondisi-kondisi yang khusus. Menjadi keharusan melakukannya terus-menerus di semua waktu dalam segala keadaan. Sungguh itu adalah ibadah yang menjadikan unggul orang mengamalkannya sementara dia dalam keadaan santai. Ia juga merupakan faktor pendorong kepada kecintaan Allah Ta’ala dan ma’rifat-Nya. Membantu kepada kebaikan dan menahan lisan dari perkataan-perkataan buruk. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, 6/112).

Sumber: Buku Fiqih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

Penulis: Ade Abdurrahman

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER