Selasa, Agustus 2, 2022
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirKEUTAMAAN DZIKIR-DZIKIR YANG BERKAITAN DENGAN AMALAN SEHARI SEMALAM

KEUTAMAAN DZIKIR-DZIKIR YANG BERKAITAN DENGAN AMALAN SEHARI SEMALAM

KEUTAMAAN DZIKIR-DZIKIR YANG BERKAITAN DENGAN AMALAN SEHARI SEMALAM

               Sungguh, di antara bahasan mulia dan perkara penting yang sangat dibutuhkan setiap Muslim, adalah apa yang berkaitan dengan amalan seorang Muslim sehari semalam, ketika berdiri dan duduk, bergerak dan diam, masuk dan keluar dan seluruh urusannya. Hendaknya dia memanfaatkan semua itu dalam ketaatan kepada Allah ta’ala dan menggunakannya pada apa yang diridhai-Nya. Sehingga pada semua itu dia dalam keadaan berdzikir terhadap Rabbnya, mohon pertolongan pada-Nya semata, dan menyerahkan seluruh urusannya kepada-Nya.

               Disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdzikir kepada Rabbnya di setiap keadaannya. (Shahih Muslim, no. 373) Yakni, beliau tidak meninggalkan dzikir pada Allah pada keadaan apapun di antara keadaan-keadaannya, malam dan siang, shubuh dan petang, safar dan mukim, berdiri dan duduk, serta keadaan-keadaannya yang lain. Tidaklah beliau mengerjakan suatu perbuatan seperti tidur dan terjaga, masuk dan keluar, menaiki kendaraan dan turun darinya, dan lain sebagainya, melainkan beliau memulainya dengan dzikir pada Allah dan doa kepada-Nya.

               Barang siapa mencermati sunnah yang penuh berkah ini dan petunjuk Nabi yang mulia, niscaya akan mendapati disana terdapat dzikir-dzikir pagi dan petang, dzikir-dzikir tidur dan bangun, dzikir-dzikir shalat dan sesudahnya, dzikir-dzikir makan dan minum, dzikir-dzikir menaiki kendaraan dan safar, dzikir-dzikir yang berkaitan dengan mengusir kegundahan, kerisauan, dan kesedihan, dzikir-dzikir yang diucapkan ketika seorang Muslim melihat apa yang dia sukai dan tidak dia sukai, dan selain itu dari dzikir-dzikir yang berkaitan langsung dengan keadaan seorang Muslim sehari semalam.

               Pada dzikir-dzikir yang agung itu dengan berbagai macamnya sesuai situasi dan kondisinya, terdapat pembaharuan keimanan, pengukuhan hubungan dengan Allah ta’ala, pengakuan akan nikmat-serta pemberian-Nya nikmatNya yang berkesinambungan yang kemurahan-Nya, dan kebaikan-Nya. Dalam dzikir-dzikir tersebut beruntun, kesyukuran kepada-Nya atas karunia-Nya, nikmat-Nya. terdapat pula sikap bernaung kepada-Nya semata, bersandar kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya, dengan berlindung pada-Nya dari gangguan-gangguan setan dan keburukan-keburukan jiwa, keburukan semua pemilik keburukan di antara ciptaan, dan keburukan semua siksaan, atau bencana, atau musibah.

               Di dalamnya terdapat juga pengukuhan akan keesaan Allah. berlepas dan membersihkan diri dari mempersekutukan-Nya, pengakuan dan ketundukan akan rububiyah serta uluhiyah-Nya. Barang siapa memiliki antusias dan perhatian serius terhadap doa-doa Nabi yang dinukil darinya, niscaya dia akan mengakui berulang kali, bahwa Allah semata yang menghidupkan dan mematikan, memberi makan dan minum, menjadikan miskin dan kaya, memberi pakaian dan busana, menyesatkan dan memberi petunjuk, dan dia semata yang berhak untuk dijadikan sembahan dan diibadahi, untuk tunduk dan ibadah. menghinakan diri pada-Nya, dan diarahkan untuk-Nya semua jenis-jenis ibadah.

               Sebagaimana dikatakan Ibnu Al-Qayyim rahimahullah: “Pohon yang berbuah pengetahuan dan keadaan yang hendak diraih dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang menempuh jalan (menuju Allah). Sementara tidak ada jalan untuk meraih buahnya kecuali dari pohon dzikir. Setiap kali pohon itu bertambah besar dan akarnya semakin menancap, niscaya buahnya semakin banyak. Dzikir membuahkan tingkatan-tingkatan yang seluruhnya berupa kesadaran kepada tauhid. la adalah asal semua tingkatan. Pondasi yang dibangun tingkatan itu di atasnya. Sebagaimana dinding dibangun di atas pondasinya. Dan sebagaimana atap tegak di atas dinding penyangganya. (Al-Waabil Ash-Shayyib, hal. 132)

               Di samping itu, dzikir mencakup puncak cita-cita yang benar dan akhir tujuan-tujuan yang tinggi. Di dalamnya terdapat kebaikan, manfaat, keberkahan, faidah-faidah terpuji, dan hasil-hasil agung, yang tidak mungkin diliput oleh manusia, atau diungkapkan oleh lisan. Oleh karena itu, termasuk perkara patut bagi Mukmin untuk memelihara dengan sebaik-baiknya dzikir-dzikir yang agung itu. Semua dzikir pada waktunya yang sesuai baginya sehari semalam. Sesuai yang disebutkan dalam As-Sunnah. Agar terealisasi baginya keutamaan-keutamaan besar tersebut dan makna- makna mulia. Supaya dia termasuk pula orang-orang yang dipuji Allah ta’ala dalam firman-Nya:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Laki-laki yang banyak berdzikir dan perempuan yang banyak berdzikir, Allah siapkan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung.” (Al-Ahzab: 35)

               Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang makna ayat ini bahwa beliau berkata, “Maksudnya, mereka berdzikir pada Allah di belakang shalat-shalat, pagi dan petang, di tempat-tempat tidur, setiap kali terbangun dari tidurnya, dan setiap kali keluar dan masuk ke rumahnya niscaya dia berdzikir pada Allah ‘azza wa jalla.” Dari Mujahid rahimahullah dia berkata, “Tidaklah seseorang termasuk di antara orang-orang laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir pada Allah, hingga dia berdzikir pada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring”.

               Pembahasan yang mulia ini telah mendapat antusias tinggi dan perhatian serius dari para ulama. Mereka pun menulis tulisan-tulisan yang sangat banyak tentangnya. Mereka mengulasnya secara detail dalam sejumlah kitab, di mana Allah telah memberi manfaat dengannya siapa Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Di antaranya adalah kitab Amalu Yaum Wallailah karya Al-Imam Abu Abdirahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i (penulis kitab As-Sunan) kitab Amalul Yaum Wallailah oleh murid beliau Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Ishak yang dikenal dengan sebutan Ibnu As-Sunniy. kitab Ad Du’a Al-Kabir karya Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi, kitab Al-Adzkaar karya Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawi, kitab Al-Kalim Ath- Thayyib karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab Al-Waabil Ash Shayyib karya murid beliau Al-Allamah Ibnu Al-Qayyim, kitab Tuhfah Adz-Dzakirin karya Al-Imam Asy-Syaukani, kitab Tufhah Al-Akhyaar karya Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz-semoga Allah merahmati semuanya dan selain itu dari kitab-kitab bermutu serta tulisan-tulisan bermanfaat yang ditulis ahli ilmu dahulu dan sekarang mengenai perkara yang besar ini.

Sumber: Buku Fiqih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

Penulis: Ade Abdurrahman

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER