DZIKIR-DZIKIR TIDUR PART 2

Sesungguhnya di antara dzikir-dzikir agung yang senantiasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam saat akan tidur dan bangun tidur adalah apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya dari Hudzaifah bin Al-Yaman dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, maka beliau membaca: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu Ya Allah, aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: ‘Al Hamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali) ‘.” (Shohih Bukhari)

Lafadz, “Dengan nama-Mu ya Allah,” yakni; dengan nama-Mu ya Allah. Huruf ba’ adalah untuk isti’anah (memohon pertolongan). Maknanya, aku tidur dengan memohon bantuan kepada-Mu, meminta penjagaan-Mu, dan mengharap perlindungan serta keselamatan dari-Mu. 

Lafadz, “Aku mati dan aku hidup,” yakni; aku dalam keadaan ini menyebut nama-Mu. Dengan menyebut nama-Mu aku hidup selama aku dihidupkan, dan diatasnya pula aku mati. Di sini terdapat isyarat bahwa seorang Muslim tidak bisa lepas dari dzikir kepada Rabbnya meski sekejap mata, ketika tidur, ketika terjaga, dan dalam semua urusannya.

Mengucapkan lafadz, “Dengan nama-Mu ya Allah aku mati ketika hendak tidur, terdapat padanya petunjuk bahwa tidur disebut mati dan wafat, meskipun kehidupan ada padanya. Demikian pula firman Allah:

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)

Oleh karena itu beliau mengatakan di akhir hadits ini ketika bangun dari tidur, Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami sesudah mematikan kami,” sebagai isyarat kepada tidur yang terjadi sebelumnya. Orang tidur menyerupai mayit. Sebab gerakan padanya terhenti dan tidak ada kemampuan untuk membedakan (antara yang baik dan buruk, dan sebagainya). Atas dasar itu, beban syara’ diangkat darinya hingga bangun dari tidurnya.

Di antara faidah-faidah dzikir yang agung adalah mengingatkan manusia akan kematian yang merupakan akhir bagi setiap orang, dan tempat kembali setiap yang hidup, kecuali Dzat Yang Mahahidup dan tidak akan mati. Bangun dari tidur merupakan petunjuk tentang kekuasaan Allah untuk membangkitkan jasad-jasad sesudah kematiannya dan menghidupkannya sesudah wafatnya. Oleh karena itu, beliau berkata saat bangun tidur, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami  sesudah mematikan kami dan kepada-Nya kebangkitan.”

Lafadz, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami sesudah mematikan kami.” Di sini terdapat pujian bagi Allah atas nikmat yang agung dan pemberian yang besar ini, yaitu kehidupan sesudah kematian. Maksudnya, bangun sesudah tidur. Salah satu keindahan yang berkaitan erat dengan makna ini dan sangat bersesuaian dengannya adalah apa yang diriwayatkan Syaikhan; Bukhari dan Muslim, dari hadits Abu Hurairah, dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ فِيهِ وَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ اللَّهُمَّ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِين

Jika salah seorang dari kalian hendak berbaring di atas tempat tidurnya, hendaklah ia mengibas tempat tidurnya dengan bagian ujung dalam kainnya. Karena ia tidak tahu apa yang ada di bagian ujung dalam kainnya itu. Dan hendaklah ia membaca; Ya Allah, karenaMu aku meletakkan lambungku dan karenaMu aku mengangkatnya. Jika Engkau mengambil nyawaku, maka ampunilah aku. Jika Engkau membiarkannya tetap hidup maka peliharalah ia dengan sesuatu yang Engkau gunakan untuk memelihara hamba-hambaMu yang shalih.” (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Serupa pula dengannya apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya dari Abdullah bin Umar, bahwa dia memerintahkan seseorang jika telah menyiapkan tempat tidurnya, hendaknya mengucapkan:

اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ 

Ya Allah, Engkau telah menciptakan diriku dan Engkaulah yang akan mematikannya. Matiku dan hidupku hanyalah untuk-Mu. Apabila Engkau menghidupkan diriku, maka jagalah. Dan apabila Engkau mematikan diriku, maka ampunilah. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesehatan yang sempurna.”  (Shahih Muslim)

Oleh karena itu, disyariatkan bagi setiap Muslim di tempat ini untuk meminta pada Allah pemeliharaan jika Dia masih menuliskan baginya kehidupan, dan memohon pada-Nya rahmat serta ampunan jika Dia telah menuliskan baginya kematian.

Sebagaimana patut bagi seorang Muslim apabila kembali ke pembaringannya hendaknya mengingat tempat kembali dan tujuan perjalanannya, demikian pula sepantasnya baginya untuk mengingat nikmat Allah atasnya, pada waktu-waktu yang lalu dari hari-harinya, berupa makanan, minuman, tempat tinggal, kesehatan, dan afiat. Sehingga dia memuji Allah dan mensyukurinya atas hal itu.

Oleh karena itu disebutkan dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa apabila kembali ke pembaringannya, maka beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta mencukupi kebutuhan kami dan memberikan kami tempat berlindung, karena masih banyak orang yang tidak mempunyai kecukupan dan tempat berlindung.” (Shahih Muslim)

Atas dasar ini, sesungguhnya seorang Muslim apabila kembali ke tempat tidurnya, hendaknya mengingat dua hal:

  • Apa-apa yang terdahulu dari hari-harinya, lalu dia memuji Allah atas apa yang telah Dia berikan padanya berupa kesehatan, afiat, makanan, minuman, tempat tinggal, dan selain itu.
  • Hendaknya pula mengingat apa yang akan datang dari waktu-waktunya, sementara dia padanya dalam dua kemungkinan; mungkin dicabut ruhnya, maka dia minta kepada Allah ampunan dan rahmat, atau dipanjangkan umurnya, maka dia meminta Allah untuk menjaganya sebagaimana Dia menjaga hamba-hamba-Nya yang shalih.

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Muhammad waalihi wasohbihi ajma’in.

Al-Bayaan Cianjur, Ahad 05 September  2021/ 27 Muharram 1443 H

Penulis: Adep Baehaki

Sumber: Diringkas dari buku Fikih Do’a dan Dzikir jilid 2 karya Syaikh Abdurrazaq Bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr -Hafidzahumallahu-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here