Rabu, Februari 8, 2023
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirINDIKASI DAN MAKNA KALIMAT TAUHID LAA ILAAHA ILLALLAH

INDIKASI DAN MAKNA KALIMAT TAUHID LAA ILAAHA ILLALLAH

INDIKASI DAN MAKNA KALIMAT TAUHID LAA ILAAHA ILLALLAH

Sungguh kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallah’ adalah sebaik-baik dzikir, paling utama, dan paling sempurna. Namun ia tidak diterima di sisi Allah sekedar diucapkan dengan lisan tanpa menegakan hakikat indikasinya. Menerapkan asas maksudnya berupa penafian syirik dan penetapan keesaan bagi Allah. Lalu disertai keyakinan yang kokoh terhadap apa yang dikandungnya dari hal-hal itu serta mengamalkannya.

Kalimat agung ini mengandung pengertian bahwa apa-apa selain Allah maka ia bukan sembahan. Menjadikan selain Allah sebagai sembahan merupakan perkara kebatilan yang paling batil. Menetapkannya adalah kezhaliman yang terbesar dan puncak kesesatan. Allah berfirman:

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ هُوَ الْبَاطِلُ وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ

“Hal itu (kekuasaan Allah berlaku) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Mahabenar dan apa saja yang mereka seru selain Dia itulah yang batil. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar”. (QS. Al-Hajj: 62)

Dan firman-Nya:

اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13)

Zhalim adalah meletakan sesuatu pada selain tempatnya. Maka tidak diragukan lagi mengalihkan peribadatan kepada selain Allah adalah kezhaliman. Sebab ia termasuk meletakan sesuatu pada selain tempatnya. Karena ia adalah kezhaliman yang paling zhalim dan paling berbahaya.

Sungguh ‘laa ilaaha illallah’ tidak bermanfaat kecuali bagi yang mengetahui indikasinya baik penafian maupun penetapan, meyakini hal itu dan mengamalkannya. Adapun orang yang mengucapkannya dan mengamalkannya secara lahir namun tidak meyakini, niscaya dia termasuk munafik. Sedangkan orang yang mengamalkannya dan mengamalkan lawan serta menyelisihi kesyirikan, maka termasuk orang kafir. Demikian pula orang yang mengucapkannya lalu murtad dari Islam dengan mengingkari sesuatu dari konsekuensinya serta hak-haknya, maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya meski diucapkannya beribu-ribu kali. Serupa dengannya apabila seseorang mengucapkannya dan memalingkan jenis-jenis peribadahan kepada selain Allah, seperti do’a, menyembelih, nadzar, permintaan pertolongan pada waktu genting dan gawat, tawakal, taubat, harapan, takut, cinta, dan selain itu. Barang siapa mengalihkan suatu ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, lalu dialihkan kepada selain-Nya, maka dia telah mempersekutukan Allah yang Mahaagung, meski dia mengucapkan ‘laa ilaaha illallah.’ Karena saat itu dia tidaklah mengamalkan konsekuensi tauhid dan ikhlas yang termasuk makna dan indikasi kalimat agung ini. (Lihat tafsir Al-Aziz Al-Hamid, hal. 78)

Sesungguhnya ‘laa ilaaha illallah’ maknanya adalah; tidak ada sembahan yang hak kecuali satu sembahan, yaitu Allah yang Esa tak ada sekutu bagi-Nya. Kata ‘ilaah’ dalam bahasa adalah yang disembah, dan ‘laa ilaaha illallah’ adalah; tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah, seperti firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

Lafazh ‘laa ilaaha illallah’ mencakup penafian dan penetapan. Kalimat ini menafikan peribadatan dari setiap sesuatu selain Allah. Segala sesuatu selain Allah yang berupa malaikat dan para nabi terlebih lagi selain mereka bukanlah sembahan. Ia tidaklah berhak mendapatkan ibadah sedikit pun. Kalimat ini menetapkan peribadatan hanya kepada Allah semata. Artinya, seorang hamba tidaklah menyembah selainnya, dalam arti tidak memaksudkannya dengan sesuatu dari peribadatan, dan ia adalah keterkaitan hati yang mengharuskan dengannya sesuatu dari jenis-jenis ibadah, seperti do’a, menyembelih, nadzar dan selainnya.

Di antara ayat yang menerangkan tentang makna kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallah’ yaitu:

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163). 

Firman-Nya yang lain:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ

“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah)” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Adapun seseorang yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ tanpa mengetahui maknanya serta tidak mengamalkan konsekuensinya, bahkan terkadang menjadikan untuk selain Allah perolehan dan bagian dari ibadahnya baik berupa do’a, takut, menyembelih, nadzar, dan selain itu dari jenis-jenis peribadatan, maka sungguh ini tidak mencukupi bagi si hamba untuk menjadi ahli laa ilaaha illallah, dan tidak pula menyelamatkannya pada hari kiamat dari adzab Allah. ( Lihat Tafsir Al-Aziz Al-Hamid, hal. 140 )

Sungguh ‘laa ilaaha illallah’ bukan sekedar nama tanpa makna, atau perkataan yang tak memiliki hakikat, atau lafadz yang tidak memiliki kandungan apapun, seperti diduga oleh sebagian orang, yaitu mereka yang meyakini bahwa puncak realisasi dalam hal itu adalah mengucapkan kalimat ini tanpa meyakini dalam hati sesuatu dari makna-makna, atau melafadzkannya tanpa menegakan sesuatu dari asas-asas dan hakikat. Sudah pasti ini bukanlah urusan dari kalimat agung ini, bahkan ia adalah nama bagi makna yang besar, perkataan yang memiliki makna yang agung, lebih agung daripada semua makna.

Kesimpulannya adalah berlepas diri dari peribadatan kepada setiap sesuatu selain Allah, lalu menghadap kepada Allah semata dengan tunduk dan merendah, mengharap dan penuh keinginan, kembali dan bertawakal, serta berdo’a dan memohon. Pemilik ‘laa ilaaha illallah’ tidak meminta kecuali kepada Allah, tidak minta pertolongan dalam keadaan genting dan gawat kecuali kepada Allah, tidak tawakal kecuali kepada Allah, tidak mengharap kepada selain Allah, tidak menyembelih kecuali untuk Allah, tidak memalingkan sesuatu dari peribadatan kepada selain Allah, dan mengingkari semua apa yang disembah selain Allah, serta berlepas dari hal-hal itu lalu menuju kepada Allah semata.  

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Muhammad waalihi wasohbihi ajma’in.

Al-Bayaan Cianjur, Selasa 17 Agustus  2021/ 08 Muharram 1443 H

Penulis: Adep Baehaki

Sumber : Diringkas dari buku Fikih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazaq Bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr -Hafidzahumallahu-

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER