ASMAUL HUSNA TIDAK TERBATAS PADA JUMLAH TERTENTU, DAN PENJELASAN MAKSUD SABDA BELIAU ﷺ, “BARANG SIAPA MELIPUTINYA NISCAYA MASUK SURGA.”

Telah dikutip oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab Shahih masing-masing, dari hadis Abu Hurairah radiallahu ‘anhu, beliau bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa meliputinya, niscaya masuk surga.(Shahih Al-Bukhari, No.2736, dan Shahih Muslim.2677).

Sebagian orang telah salah sangka, di mana mereka mengira bahwa maksud meliputi nama-nama Allah yang dimotivasi dalam hadis itu adalah mengumpulkan lafadz-lafadz sebanyak sembilan puluh sembilan dari nama-nama Allah, menampakkannya dalam hati, lalu mengucapkannya pada waktu-waktu tertentu secara khusus. Terkadang sebagian mereka menjadikannya dalam deretan dzikir kepada Allah subuh dan petang. Tanpa ada pemahaman dari mereka terhadap nama-nama yang mulia dan agung ini, atau merenungkan indikasi-indikasinya, atau merealisasikan kandungannya serta konsekuensinya, atau mengamalkan kewajibannya serta tuntutannya.

Para ulama telah mengingatkan, bahwa maksud meliputi nama-nama Allah, bukan mengumpulkan huruf-hurufnya saja tanpa memahami dan mengamalkannya. Bahkan menjadi keharusan dalam hal itu memahami maknanya dan maksudnya dengan pemahaman yang benar lagi selamat. Kemudian mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya.

Abu Umar Ath-Thalmanky berkata, “Termasuk kesempurnaan pengetahuan tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, yang dengannya orang berdo’a dan penghapal berhak mendapatkan apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ, adalah pengetahuan tentang nama-nama dan sifat-sifat, dan apa yang terkandung di dalamnya yang berupa faidah-faidah, serta apa yang ditunjukannya berupa hakikat-hakikat. Barang siapa tidak mengetahui hal itu, maka dia belum mengetahui makna-makna dari nama-nama, tidak juga memperoleh manfaat dengan menyebutnya dari apa-apa yang ditunjukannya berupa makna-makna.” ( Fathul Baari, Karya Ibnu Hajr, 11/226)

Beliau rahimahullah telah mengingatkan bahwa kesempurnaan pengetahuan tentang nama-nama yang paling indah, yang dengannya orang berdo’a kepada Allah meraih pahala yang agung seperti disebutkan dalam hadist, hanya bisa terjadi dengan jalan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat, dan kandungannya yang berupa faidah-faidah, serta apa yang ditunjukannya daripada hakikat-hakikat. Bukan mengumpulkannya semata tanpa memahaminya atau mengilmui apa yang ditunjukkannya.

Al-Allamah Ibnu Al-Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa meliput asmaul husna terdiri dari tiga tingkatan, dan dengan menyempurnakannya dan merealisasikannya, seorang hamba akan meraih ganjaran Allah yang agung tersebut dalam hadis Rasulullah ﷺ terdahulu. Adapun ketiga tingkatan itu adalah:

Pertama, mengumpulkan lafadz-lafadznya dan jumlahnya.

Kedua, memahami makna-maknanya dan indikasi-indikasinya.

Ketiga, berdo’a kepada Allah dengannya. Dan ini mencakup do’a peribadahan dan do’a permintaan.

Di antara perkara yang perlu diketahui dalam pembahasan ini, bahwa asma’ul husna tidak terbatas pada jumlah tertentu seperti yang disebutkan dalam hadis. Sabdanya, ‘barang siapa meliputinya,’ adalah sifat, bukan berita yang berdiri sendiri. Maknanya, sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama yang barang siapa meliputinya niscaya masuk surga. Ini tidaklah menafikan adanya nama-nama yang lain bagi-Nya. Perkara seperti ini memiliki padanan yang cukup banyak dalam bahasa arab. Seperti dikatakan, “Sesungguhnya aku memiliki sembilan puluh sembilan dirham, aku menyiapkannya untuk sedekah.” Pernyataan ini tidak menafikan adanya dirham lain untuk disiapkan buat perkara lain pula. Ini adalah perkara yang sudah dikenal dan tidak ada perbedaan padanya di antara para ulama.

Telah disebutkan dalam As-Sunnah keterangan yang menunjukan bahwa nama-nama Allah tidak terbatas dan tidak dicukupkan pada jumlah tertentu. Di antaranya disebutkan dalam Al-Musnad dan selainnya, dari hadis Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ, bersabda:

مَا أَصَابَ عَبدًا هَمّْ ولا حُزنٌ, فقال اللّهمّ : إنّي عَبدُكَ, وابنُ عبدِكَ, ابنُ أَمَتِكَ, نَاصِيَتِي بِيَدِكَ, مَاضٍ فيَّ حُكمُكَ, عَدلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ, أَسأَلُكَ بِكُلِّ اسمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيتَ بِهِ نَفسَكَ, أَو أَنزَلتَهُ فِي كِتَاِبِكَ أَو عَلّمتَهُ أَحَدًا مِن خَلقِكَ, أَو استَأثَرتَ  بِهِ فِي عِلمِ الغَيبِ عِندَكَ أَن تَجعَلَ القُرآنَ رَبِيعَ قَلبِي, وَنُورَ صَدرِي, وَجَلاَءَ حُزنِي, وَذَهَابَ هَمِّي وَغَمِّي, إِلَّا أَذهَبَ اللهُ هَمَّهُ وَغُمًّهُ, وَأَبدِلهُ مَكَانَهُ فَرحًا

“Tidaklah seorang hamba ditimpa kerisauan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan, Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu, putra hamba-Mu yang laki-laki, putra hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku di tangan-Mu, berlaku padaku hukum-Mu, adil padaku keputusan-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang menjadi milik-Mu, Engkau jadikan nama bagi diri-Mu, atau Engkau menurunkannya dalam kitab-Mu, atau Engkau mengajarkannya kepada seseorang di antara ciptaan-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penenang hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, penghapus kerisauanku,’ melainkan Allah akan menghilangkan darinya kerisauannya dan kesedihannya, lalu menggantikan tempatnya dengan kegembiraan.” (Al-Musnad, 1/391, dan dinyatakan shahih oleh Al-Allamah Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, No.199)

Ibnu Al-Qoyyim rahimahullah berkata, “Maka dijadikanlah nama-nama Allah tiga bagian, yaitu:

Pertama, bagian yang Dia jadikan sebagai nama bagi diri-Nya, lalu ditampakan kepada siapa yang Dia kehendaki di antara malaikat, atau selain mereka, namun tidak diturunkan dalam kitab-Nya.

Kedua, bagian yang diturunkan dalam kitab-Nya dan diketahui oleh hamba-hamba-Nya.

Ketiga, bagian yang disimpan dalam ilmu ghaib di sisi-Nya, dan tidak diperlihatkan kepada sesuatu dari ciptaan-Nya. Oleh karena itu dikatakan, “Engkau menyimpannya,” yakni, Engkau menyendiri dalam mengetahuinya.” ( Bada’i’ Al-Fawa’id, 1/66)

Berdasarkan hal ini menjadi jelas bahwa nama-nama Allah tidak terbatas pada jumlah yang disebutkan dalam hadis di atas. Bahkan nama-nama yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah lebih banyak daripada itu. Maksimal kandungan hadis di atas adalah menunjukan kepada keutamaan meliput jumlah tersebut dari nama-nama Allah. Wallahu A’lam.  

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Muhammad waalihi wasohbihi ajma’in.

Al-Bayaan Cianjur, Rabu 03 Februari  2020/ 21 Jumadil Akhir 1442 H

Penulis: Adep Baehaki

Sumber : Diringkas dari buku Fikih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazaq Bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr -Hafidzahumallahu-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here