Allah Ta’ala telah mengatakan yang demikian dalam firman-Nya,

وَهُوَ ٱلَّذِی یُنَزِّلُ ٱلۡغَیۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُوا۟ وَیَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥۚ وَهُوَ ٱلۡوَلِیُّ ٱلۡحَمِیدُ

Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.

[Surat Asy-Syura : 28]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda :

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللـهِ ورَحْمَتِهِ

Kami di hujani dengan keutamaan Allah dan Rahmat-Nya (HR.Bukhroi, 205 ) 

Tapi hujan pun bisa menjadi musibah dan hukuman dari Allah Al ‘Aziizul Jabbaar.

Sebagaimana mana Allah menurunkan hujan azab untuk kaum Nuh. 

۞ كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحࣲ فَكَذَّبُوا۟ عَبۡدَنَا وَقَالُوا۟ مَجۡنُونࣱ وَٱزۡدُجِرَ ۝  فَدَعَا رَبَّهُۥۤ أَنِّی مَغۡلُوبࣱ فَٱنتَصِرۡ ۝  فَفَتَحۡنَاۤ أَبۡوَ ا⁠بَ ٱلسَّمَاۤءِ بِمَاۤءࣲ مُّنۡهَمِرࣲ ۝  وَفَجَّرۡنَا ٱلۡأَرۡضَ عُیُوناً فَٱلۡتَقَى ٱلۡمَاۤءُ عَلَىٰۤ أَمۡرٍ قَدۡ قُدِرَ

Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (Rasul), maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, “Dia orang gila!” Lalu diusirnya dengan ancaman.

Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).”

Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.

Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan.

[Surat Al-Qamar : 9 – 12]

Begitupun hujan batu api yang Allah turunkan kepada kaum Luth.

فَلَمَّا جَاۤءَ أَمۡرُنَا جَعَلۡنَا عَـٰلِیَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَیۡهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّیلٍ مَّنضُود

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkannya negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar,

[Surat Hud : 82]

Ini pun yang kita lihat di negeri kita, ketika hujan turun, maka musibah pun datang silih berganti, baik berupa banjir, angin topan dan lain-lain. 

Kenapa ini terjadi? 

Maka tidak lain adalah karena dosa-dosa manusia. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَاۤ أَصَـابَكُم مِّن مُّصِیبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِیكُمۡ وَیَعۡفُوا۟ عَن كَثِیرٍ

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).

[Surat Asy-Syura : 30]

Begitupun firman Allah Ta’ala :

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِی ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِی ٱلنَّاسِ لِیُذِیقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِی عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

[Surat Ar-Rum : 41]

Coba kita lihat begitu banyak kesyirikan di negeri kita berupa do’a, istighotsah, tawassul menyembelih untuk selain Allah dan kesyirikan lainnya, dan juga dosa-dosa besar yang di lakukan terus menerus. 

Bahkan banyak kaum muslimin menyambut dan merayakan perayaan agama selain Islam, seperti dengan menyambut, menyelamati dan bahkan merayakan natal dan tahun baru yang merupakan pengakuan adanya Tuhan selain Allah Ta’ala, inilah yang membuat Allah murka. 

Sebagaimana firman  Allah Ta’ala : 

تَكَادُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ۝  أَن دَعَوۡا۟ لِلرَّحۡمَـٰنِ وَلَدًا ۝  وَمَا یَنۢبَغِی لِلرَّحۡمَـٰنِ أَن یَتَّخِذَ وَلَدًا

Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu)، karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.

[Surat Maryam 90 – 92]

Saudaraku takutlah ketika hujan yang datang adalah adzab yang tidak hanya akan menimpa orang dzolim saja diantara kita. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَٱتَّقُوا۟ فِتۡنَةً لَّا تُصِیبَنَّ ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمۡ خَاۤصَّةًۖ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.

[Surat Al-Anfal : 25]

Saudaraku, mari kita ambil ibroh dari hujan,karena Allah Menjadikan hujan ini sebagai tanda-tanda agar kita mengenal Allah, kebesaran dan kekuasaan Nya. 

Sebagimana Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنۡ ءَایَـٰتِهِۦۤ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَـٰشِعَةً فَإِذَاۤ أَنزَلۡنَا عَلَیۡهَا ٱلۡمَاۤءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡۚ إِنَّ ٱلَّذِیۤ أَحۡیَاهَا لَمُحۡیِ ٱلۡمَوۡتَىٰۤۚ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرٌ

Dan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia MahaKuasa atas segala sesuatu.

[Surat Fushilat : 39]

Bersyukurlah kepada Allah Ar-Rahman Ar-Rohiim yang telah Menganugerahkan kepada kita hujan, dengan cara kita mengakui hujan adalah rahmat dari Allah, memuji Allah atas kenikmatan hujan, dan bersyukur kepadaNya dengan mentauhidkan Allah tidak mensekutukanNya dan juga dengan mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. 

Agar Allah Asy-Syakuur Menambahkan nikmat tersebut. 

(وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِید

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

[Surat Ibrahim : 7]

Saudaraku takutlah dari hujan yang membawa adzab, dengan kita berdo’a kepada Allah Al-Mujiib agar hujan yang turun membawa berkah dan manfaat. 

Ketika muncul mendung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاِق السَمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ- ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ؛ فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهَ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: “اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً”

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang membawa manfaat. (Adabul Mufrod no. 686, dihasankan oleh Syaikh Al Albani) 

Yang mana turunnya hujan adalah waktu di ijabahnya do’a.

Dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan(HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.(”HR. Bukhari no. 1014.) 

Bertaubatlah dan beristgfarlah dari dosa-dosa agar hujan menjadi kebaikan untuk kita dan tidak menjadi adzab bagi kita.

Allah Ta’ala berfirman : 

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُوا۟ رَبَّكُمۡ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا، یُرۡسِلِ ٱلسَّمَاۤءَ عَلَیۡكُم مِّدۡرَارًا ۝  وَیُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَ ٰ⁠لࣲ وَبَنِینَ وَیَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّـٰتࣲ وَیَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَرًا

Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha PPengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

[Surat Nuh : 10 – 12]

Semoga Allah Ar-Rahmaan Ar-Rohiim menurunkan hujan kepada kita dengan membawa Berkah dan manfaat dan tidak menjadikan hujan sebagai musibah. 

Barokallahu fiikum. 

Penulis : Haidar Andika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here