Dzikir-Dzikir Dua Tepi Siang (Lanjutan)

Diantara doa-doa yang selalu dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap pagi dan sore hari, bahkan Nabi tidak pernah meninggalkannya, apa yang tercantum dalam Sunan Abi dawud dan Sunan Ibnu Majah, dan yang lainnya, dari hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata, “Rasulullah tidak pernah meninggalkan do’a ini ketika sore dan subuh:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Artinya:

 “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh). (sunan Abi dawud, no. 5074, Sunan Ibnu Majah, no. 3871)

Beliau telah memulai doa agug ini dengan memohon pada Allah ta’ala ‘afiat di dunia dan akhirat. ‘Afiat adalah nikmat yang paling besar tidak dapat ditandingi apapun. Barang siapa yang diberi ‘afiat di dunia dan akhirat maka tela sempurna bagiannya dari kebaikan. At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya dari Al-Abbas bin Abdul Muthalib, dia berkata, “aku berkata ‘Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku  memintanya kepada Allah. Beliau bersabda, Mintalah kepada Allah ‘afiat. Aku pun tinggal beberapa hari kemudian aku datang dan berkata, Wahai Rasulullah, ajarkan padaku sesuatu yang aku gunakan memintapada Allah ta’ala. Maka beliau bersabda kepadaku:

یا عباس يا عم رسول الله، سل الله العافية في الدنيا والآخرة

“Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah, mintalah kepada Allah ‘afiat di dunia dan akhirat,” (Sunan At-Tirmidzi, No. 3514, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, No. 2790.)

Dalam Musnad dan Sunan At-Tirmidzi, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwa Nabi bersabda, “Mintalah kepada Allah maaf dan ‘afiat. Sungguh salah seorang kamu tidak diberi sesuatu yang lebih baik sesudah keyakinan dibanding ‘afiat”.

Maaf dari Allah adalah penghapusan dosa dan penutupannya. Sedangkan ‘afiat adalah pemberian keamanan oleh Allah ta’ala untuk hamba-Nya dari semua siksaan dan ujian, dengan memalingkan keburukan darinya, melindunginya dari bencana dan kesusahan, serta memeliharanya dari keburukan dan kejahatan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta ‘afiat di dunia dan akhirat, begitu pula ‘afiat dalam agama, dunia, keluarga, dan harta.

Adapun permintaan ‘afiat dalam agama adalah meminta perlindungan dari semua perkara yang mencoreng agama atau mengurangi kesempurnaannya. Sedangkan permintaan ‘afiat di dunia adalah meminta perlindungan dari semua perkara memudharatkan hamba di dunia, seperti musibah, atau bencana, atau mudharat, atau yang semisalnya. Kemudian meminta afiat di akhirat adalah meminta perlindungan dari kejadian-kejadian besar di akhirat, kesulitan-kesulitannya, dan semua yang ada padanya dari jenis-jenis siksaan. Lalu meminta afiat pada keluarga adalah memohon perlindungan bagi mereka dari fitnah serta menjaga mereka dari bencana-bencana dan ujian-ujian. Sementara meminta afiat pada harta adalah meminta pemeliharaan dari apa-apa yang membinasakan harta, seperti tenggelam, terbakar, dicuri, atau yang semisalnya. Maka dikumpulkan dalam hal itu permintaan pada Allah untuk memelihara dari semua rintangan yang menyakitkan dan bahaya-bahaya memudharatkan.

Lafazh, “Ya Allah, tutuplah auratku.” yakni; aib-aibku, cacatku, kekuranganku, dan semua yang tidak aku sukai jika tersingkap. Masuk pula dalam hal itu pemeliharaan dari tersingkapnya aurat. Daerah aurat bagi laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Sedangkan bagi perempuan adalah seluruh badannya.

Lafazh, “Dan amankanlah goncangan jiwaku,” kata aman di sini merupakan lawan dari kata takut. Sedangkan rau’aat (kegoncangan) adalah bentuk dari kata rau’ah yang bermakna takut dan sedih. Pada doa ini terdapat permintaan kepada Allah ta’ala untuk menjauhkan setiap perkara menakutkan, atau menyedihkan, atau mencemaskan. Penyebutan kata ‘rau’aat’ dalam bentuk jamak merupakan isyarat akan banyaknya dan beragamnya.

Lafazh, Ya Allah, peliharalah aku dari hadapanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu ditimpa secara tiba-tiba dari arah bawahku.” Di sini terdapat permintaan kepada Allah perlindungan dari kebinasaan-kebinasaan dan keburukan-keburukan yang mengintai manusia dari enam arah. Terkadang keburukan dan bencana datang dari depan, atau dari belakang, kanan, kiri, atas, atau dari bawah. Sementara seseorang tidak tahu dari arah mana dia dikejutkan bencana itu atau ditimpa musibah.

Lafazh, “Aku berlindung dengan keagungan-Mu ditimpa secara tiba-tiba dari arah bawahku.” Di sini terdapat isyarat tentang besamya bahaya yang menimpa seseorang dari arah bawahnya. Seperti di-tenggelamkan dalam bumi. Ia adalah salah satu jenis siksaan yang ditimpakan Allah ta’ala dari arah bawah untuk sebagian orang yang berjalan di permukaan bumi, tidak melaksanakan ketaatan pada pencipta-Nya, bahkan mereka berjalan di atasnya dengan dosa, permusuhan, keburukan, dan kemaksiatan. Mereka pun disiksa dengan digoncangkan dari arah bawah mereka atau dibenamkan ke dalam bumi sebagai balasan atas dosa-dosa mereka dan siksaan atas kemaksiatan mereka. 

Seperti firman Allah ta’ala yang artinya:

“Maka masing-masing Kami siksa dengan sebab dosanya. Di antara mereka ada yang kami utus atasnya angin kencang, di antara mereka ada yang ditimpa halilintar, di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan. Tidaklah Allah menzhalimi mereka akan tetapi mereka sendiri yang menzhalimi diri-diri mereka.” (Al-Ankabut: 40)

Di antara dzikir-dzikir agung yang patut bagi Muslim mengucapkannya secara kontinyu setiap pagi dan sore, adalah diriwayat dalam Musnad Imam Ahmad, dari hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Barang siapa mengucapkan,

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

(Tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu), Barang siapa mengucapkannya sepuluh kali ketika shubuh maka Allah menuliskan untuknya seratus kebaikan, menghapus darinya seratus keburukan, dan ia mendapatkan pahala yang setara dengan pahala memerdekakan seorang budak, serta dilindungi dengan sebab itu pada hari tersebut hingga sore. Barang siapa mengucapkan seperti itu ketika sore maka baginya seperti yang disebutkan pula.” (Al-Musnad, 2/360, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 6/1/136-137)

Di antara dzikir-dzikir agung yang disyariatkan bagi Muslim mengucapkannya setiap pagi sebanyak seratus kali, adalah apa yang tercantum dalam Ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barang siapa mengucapkan,

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

(Tidak ada sembahan yang haqkecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu), pada satu hari sebanyak seratus kali, maka ia mendapatkan pahala yang setara dengan membebaskan seorang budak, dituliskan untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan ia baginya sebagai benteng dari setan hari itu hingga sore, dan tidak seorang pun datang membawa yang lebih utama dari apa yang dia lakukan, kecuali seseorang mengerjakan lebih banyak darinya. Barang siapa mengucapkan,

سبحان الله وبحمده

(Mahasuci Allah dan dengan memuji- Nya), pada satu hari sebanyak seratus kali, dihapuskan kesalahan-kesalahannya meskipun seperti buih lautan. (Shahih Bukhari, No. 3293, dan Shahih Muslim, No. 2691)

Pada riwayat ini terdapat petunjuk akan keagungan urusan kalimat tauhid ‘Laa ilaaha illallah’yang merupakan kalimat paling mulia secara mutlak, kalimat paling utama yang diucapkan para Nabi, karenanya ditegakkan langit dan bumi serta diciptakan seluruh ciptaan dan manusia, para ahlinya adalah pemilik kebahagiaan dan keberuntungan, kesuksesan di dunia dan akhirat. Kalimat yang seperti ini keadaannya sangat patut bagi Muslim untuk memperhatikan dengan serius. Hanya Allah semata yang ditangan-Nya taufik dan bimbingan kepada kebenaran.

Sumber: Buku fiqih do’a dan dzikir, karya; syaikh abdurrazzaq al-Badr –hafizhahullah-

Oleh: Ade Abdurrahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here