Kamis, Juni 20, 2024
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirDampak Buruk dari Doa-doa yang Diada-adakan

Dampak Buruk dari Doa-doa yang Diada-adakan

Dampak Buruk dari Doa-doa yang Diada-adakan

Doa-doa syar’i dan dzikir-dzikir yang datang dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memiliki beberapa keistimewaan, diantaranya seperti lafadznya ringkas namun sarat akan makna. Doa-doa yang ma’tsur ini juga berisi permohonan akan kebaikan-kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak. Oleh karena itu termasuk kebaikan bagi setiap muslim bahkan suatu kewajiban atasnya untuk mempelajarinya, menghafalnya dan beribadah dengannya juga termasuk kewajiban seorang muslim untuk meninggalkan dzikir-dzikir yang dibuat-buat tanpa ada contoh dari nabi.

Tidak diragukan lagi bahwa doa-doa yang bukan bersumber dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memiliki dampak dan pengaruh yang buruk bagi seorang muslim, baik dalam aqidah maupun amal peribadatannya. Berikut adalah diantara dampak buruk dari doa-doa yang diada-adakan :

Pertama, doa-doa yang diada-adakan tidak bisa memenuhi maksud yang diinginkan dari ibadah yang berupa pencucian jiwa. Tidak juga dapat mendekatkan seseorang kepada Rabbnya. Doa-doa tersebut tidak dapat menyembuhkan dari penyakit dan tidak dapat memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Kedua, doa-doa yang dibuat-buat menghalangi seseorang dari berdoa dengan doa-doa yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia juga tidak akan mendapatkan pahala, bahkan akan mendatangkan kemurkaan Allah.

Ketiga, doa-doa yang tidak ada contohnya tidak akan dikabulkan. Padahal tujuan dari berdoa pada umumnya adalah agar dikabulkan permintaannya tersebut. Sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Keempat, doa-doa yang tidak ada contohnya umumnya mengandung perkara-perkara yang terlarang secara syariat, diantaranya seperti kesyirikan dan kebid’ahan. Atau setidaknya doa-doa tersebut dapat mengantarkan kepada kesyirikan atau kebid’ahan. Maka doa-doa semacam ini termasuk di antara pintu berdoa dan memohon pertolongan kepada selain Allah.

Kelima, apabila seseorang berdoa dengan doa-doa yang tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dikawatirkan dia tidak akan kembali kepada doa-doa yang disyariatkan. Kecuali apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya Taufik. Karena seseorang yang meyakini bahwasanya doa-doa yang tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah sesuatu yang disyariatkan maka dia akan terus menerus berdoa dengan doa-doa tersebut dan meyakini bahwasanya doa-doa tersebut adalah doa-doa yang disyariatkan.

Keenam, berdoa dengan doa-doa yang tidak ada contohnya dan meninggalkan doa-doa yang disyariatkan hakekatnya adalah menukar yang baik dengan yang buruk, yang bermanfaat dengan yang madhorot.

Ketujuh, doa-doa yang tidak ada contohnya menyerupai Ahlul kitab yang membuat doa-doa yang menyelisihi apa yang dibawa oleh rasul-rasul mereka dan di dalamnya terdapat keserupaan dalam nada-nada, irama serta gerak badan atau selainnya.

Kedelapan, pada umumnya orang yang berdoa dengan doa-doa atau wirid-wirid yang tidak ada contohnya, mereka tidak mengerti maknanya. Mereka hanya mengucap lafadz-lafadz saja serta melantunkannya tanpa dipahami maknanya. Bahkan banyak didapati dari doa-doa yang tidak ada contohnya tersebut, ungkapan-ungkapan yang tersusun dari kalimat-kalimat yang rumit maknanya dan samar kandungannya.

Sumber :

Fiqih Doa dan Dzikir Syaikh Abdurrozzaq

Cianjur, 8 Agustus 2020

Oleh : Muhammad, M.Pd.I

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER