Rabu, Februari 8, 2023
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirAmalan Ketika Gerhana Matahari atau Bulan

Amalan Ketika Gerhana Matahari atau Bulan

Amalan ketika gerhana matahari atau bulan

Matahari dan bulan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah

Allah Subhanahu wata’ala telah menundukkan berbagai makhluk-Nya bagi manusia untuk memuliakannya dan agar manusia dapat menjalankan ketaatan kepada Allah sebagai bentuk mentauhidkan Diri-Nya. Diatara yang Allah tundukkan bagi manusia adalah langit, bumi, malam, siang, matahari dan bulan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢) وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (١٣)

Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Jatsiah: 12-13)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِى إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّ ى وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Luqman: 12)


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأنْهَارَ (٣٢) وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ (٣٣) وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (٣٤)

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim: 32-34)

Matahari dan bulan merupakan salah satu pemberian Allah kepada hamba-hambaNya. Allah menjadikan mereka konsisten dalam peredarannya agar manusia bisa menghitung waktu demi kebaikan manusia, hewan dan tumbuhan. Allah menjadikan mereka berjalan dalam orbitnya dengan perhitungan yang sangat teliti, tidak ada yang kurang ukurannya, ketinggianya, kecepatannya walau hanya sedikit. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (QS. Ar-Rahman: 5)

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (٣٨) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (٣٩) لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٤٠)

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin: 38-40)

Tidak ragu lagi bahwasanya matahari dan bulan merupakan tanda-tanda akan kebesaran Allah. Mereka adalah makhluk yang taat akan perintah Allah, tidak terang atau gerhana melainkan atas perintah Allah pula. Apabila Allah hendak membuat takut makhluk-makhluknya atas dosa-dosa yang mereka perbuat, Allah akan membuat matahari atau bulan menjadi gerhana dengan menghilangkan cahayanya baik sebagian atau keseluruhannya. Hal ini tentu menunjukkan akan kekuasaan Allah, yang Maha Kuasa merubah keadaan segala sesuatu sekehendak diri-Nya agar mereka kembali bertaubat kepada Allah dan kembali taat kepadaNya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا نُرْسِلُ بِٱلْـَٔايَـٰتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. Al-Isra: 59)

Amalan yang disyariatkan ketika gerhana

Disyari’atkan beberpa hal ketika terjadinya gerhana, seperti shalat, dzikir, istighfar dan sedekah. Diriwatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَيَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُم ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوْا، وَصَلُّوْا، وَتَصَدَّقُوْا

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah(HR. Bukhari)

Menepis akidah jahiliyah terkait gerhana

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi gerhana sebanyak satu kali pada tahun 10 H, diwaktu meninggalnya putra beliau yang bernama Ibrahim. Manusia di zaman jahiliyah meyakini bahwasanya terjadinya gerhana matahari ataupun bulan disebabkan kematian atau kelahiran orang yang agung. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kekeliruan akidah seperti ini.

Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, ”Dahulu pernah terjadi gerhana Matahari di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau segera berdiri dengan perasaan takut kalau terjadi kiamat. Kemudian beliau memasuki masjid untuk melakukan shalat; ruku’ dan sujud, dalam waktu yang amat panjang yang pernah aku lihat. Setelah itu beliau bersabda,

هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ؛ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini (yakni gerhana), tidaklah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun Allah hendak menakut-nakuti para hamba-Nya dengannya. Apabila kalian melihatnya, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan istighfar (memohon ampun) kepada-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim).

Tata cara shalat gerhana

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat gerhana sejak awal terjdinya hingga matahari kembali bersinar dengan tata cara sbb :

  • Bersegera menuju masjid dan memerintahkan untuk memanggil manusia dengan mengatakan [As-sholatu Jami’ah] shalatlah secara berjama’ah.
  • Meluruskan shaf makmum
  • Takbiratul ihram
  • Membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan membaca surat yang sangat panjang dengan mengeraskan bacaanya
  • Ruku dengan ruku yang sangat lama
  • Bangkit dari ruku dan mengucapkan [sami’allahu liman hamidah, rabbana walakal hamdu].
  • Kembali membaca Al-Fatihah dan surat yang panjang akan tetapi lebih pendek dari yang pertama
  • Ruku yang lama tapi lebih sebentar daripada yang pertama
  • Bangkit dari ruku dengan mengucapakan [sami’allahu liman hamidah, rabbana walakal hamdu]
  • Berdiri dengan waktu yang sama seperti rukunya
  • Sujud dengan waktu yang sama seperti rukunya
  • Bangkit dari sujud dan duduk dengan waktu yang lama
  • Sujud dengan waktu yang lama
  • Bangkit dari sujud dan melakukan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama akan tetapi lebih sebentar dalam bacaan, ruku, sujud dan berdirinya.
  • Tasyahud dan salam
  • Khutbah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya bersabda,

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِىَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِىَ أَمَتُهُ ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kami melihatmu mengambil sesuatu di tempat berdirimu, kemudian kami melihatmu mundur ke belakang”. Beliau bersabda:

 إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُوْدًا، وَلَوْ أَصَبْتُهُ، لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَابَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Sesungguhnya aku melihat Surga, maka aku berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Seandainya aku berhasil meraihnya, niscaya kalian akan dapat memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku juga melihat Neraka, aku sama sekali tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menyeramkan dari pemandangan hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita”.

Para sahabat bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kekufuran mereka”. Ada yang bertanya “Apakah mereka kufur kepada Allah?”. Beliau menjawab:

 يَكْفُرْنَ الْعَثِيْرَ، وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْأَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَا هُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ ثَيْئًا، قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Mereka kufur kepada keluarganya (suaminya), dan kufur terhadap kebaikan (tidak berterima kasih). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang waktu, lalu dia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, niscaya dia akan mengatakan : “Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup

Kebanyakan manusia di masa modern ini meremehkan fenomena gerhana karena lemahnya iman dan ketidaktahuan terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka meyakini fenomena gerhana ini hanya fenomena alam biasa tanpa melihat sebab syar’inya dan hikmah yang agung dibalik fenomena tersebut. Demikianlah Allah akan senantiasa memeperlihatkan tanda-tanda kekuasaanNya kepada hamba-hambaNya agar mereka kembali kepada Allah. Apabila satu tanda kekuasaan Allah telah menjadi biasa, maka Allah akan memperlihatkan tanda yang lebih besar lagi, hingga terjadi tanda yang paling besar yaitu kiamat. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengagungkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Sumber :

Fikih doa dan Dzikir Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin

muslim.or.id, almanhaj.or.id

Cianjur, 2 Februari 2021

Oleh : Muhammad Abu Alif

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER