Senin, Juni 27, 2022
spot_img
BerandaPenjelasan Asmaul HusnaAl-Mannan (Maha Memberi Karunia)

Al-Mannan (Maha Memberi Karunia)

Al-Mannan (المَنَّان)

Maha Memberi Karunia

Dalil penetapan:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

…. لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ المَنَّانُ

“… Tidak Ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau al-Mannan.” (HR. Abu Dawud: 1497, at-Tirmidzi 3889, dishahihkan oleh al-Albani)

Al-Mannan berarti yang banyak pemberian-Nya, besar anugrah-Nya dan melimpah nikmat-Nya untuk hamba-hamba-Nya berupa kebaikan, karunia dan rizki. 

Al-Mannan yang Maha Agung pemberiannya, maka Dia memberikan (untuk manusia) hidup, akal dan bicara, maha membentuk rupa dan membaguskan rupa, melimpahkan kenikmatan, pemberian dan anugrah.

Allah Ta’ala berfirman:

… وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا ….

“…dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (Q.S. Ibrahim[14]: 34)

Al-Mannan secara bahasa berarti pemberian tuntutan balasan.

Doa Ibadah :

1. Barang siapa yang ingin menelaah pokok-pokok karunia, maka hendaklah ia senantiasa memusatkan pandangan pada taman-taman (ayat-ayat) Al-Qur’an dan hendaklah ia memperhatikan apa yang Allah sebutkan berkali-kali di dalamnya yang berupa aneka ragam kenikmatan-Nya yang agung, pemberian-Nya yang mulia, dan karuni-Nya yang besar. Allah Ta’ala telah mengingatkan para hamba-Nya dengan karunia hidayah kepada agama ini dan mengeluarkan mereka dari gelap gulitanya kesyirikan dan kekufuran.

Allah Ta’alaberfirman, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. begitu jugalah Keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nisa [4]: 94)

Allah Ta’ala berfirman: 

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ 

“ mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.’” (Q.S. Al-Hujurat [49] : 17)

2. Allah Ta’ala mengingatkan mereka dengan karunia diutusnya para Rasul ‘alaihimushshalatu wassalam dan Dia memuliakan umat ini dengan mengutus seorang rasul pilihan dan nabi terbaik Muhammad Shallallahu ‘alihi wasallam. Firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …

dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’…” (Q.S. An-Nahl [16]: 36)

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ 

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali Imran [3]: 164)

3. Siapa saja yang senantiasa menyadari bahwa dirinya berada dalam nikmat Allah, niscaya ia tidak akan mengungkit-ungkit pemberiannya terhadap orang lain. Jika ia tetap melakukannya, niscaya akan batal pahala pemberiannya dan akan hilang pula kesempatannya memperoleh rahmat Allah pada hari kiamat, 

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Q.S. Al-Baqarah [2]: 264)

sebagaimana Rasulullah Shallallahu alihi wasallam bersabda: 

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمَنَّانُ الّذِيْ لَا يُعْطِي شَيئًا إِلَّا مَنَّه وَالْمُنَّفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الفَاجِرِ وَالْمُسْبِلُ إِزَارَهُ

“Tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, yaitu orang yang mengungkit-ungkit pemberian, orang yang menjual dagangan dengan sumpah dusta, dan orang yang memanjangkan pakaiannya melebihi mata kaki (isbal).” (HR. Muslim: 307)

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

لَايَدْخُلُ الجَنّةَ مَنَّانٌ وَلَا عَاقٌّ وَلَا مُدْمِنُ خَمْرٍ

“Tidak Akan masuk surga seorang yang mengungkit-ungkit pemberian, anak yang durhaka (kepada orang tuanya) dan pecandu khamr.” (H.R. An-Nasa’i: 5690, dishahihkan oleh al-Albani)

Do’a Permohonan:

Nama yang agung ini disebutkan dalam bentuk Ismul a’zham, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki mengerjakan shalat kemudian berdo’a dengan Asma’ul Husna: 

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa sesungguhnya segala pujian hanya milik-Mu, tiada sembahan yang benar kecuali Engkau, Yang Maha Pemberi karunia, Pencipta langit dan bumi, wahai Yang Maha Memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.”

Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkannya, dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi permintaannya. (HR. Ahmad 12946, Abu Daud 1497, Nasai 1308, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Wallahu a’lam

Referensi:
1. Fiqih Asmaul Husna : Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr

2. The Miracle of Asmaul Husna : Muallifah

3. https://dorar.net/aqadia/634/-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%86%D8%A7%D9%86

Komplek Masjid Al-Bayaan-Cianjur, 25 Rajab 1441 H / 20 Maret 2020

Oleh: Ade Abdurrahman

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER