Senin, Maret 4, 2024
spot_img
BerandaPenjelasan Asmaul HusnaAl-Ahad (Yang Maha Esa)

Al-Ahad (Yang Maha Esa)

(الأحد)

Al-Ahad (Yang Maha Esa)

Dialah Allah Al-Ahad (Dzat Yang Maha Esa), nama ini disebutkan hanya sekali saja dalam Al-Quran yaitu dalam surat Al-Ikhlas.

Allah Ta’ala berfirman :

(قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ)

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. [Surat Al-Ikhlas: 1]

Nama ini menunjukan sifat keesaan bagi Allah yang artinya Allah Esa dalam Dzat-Nya, karena hanya ada satu Tuhan di dalam Islam yaitu Allah Al-Ahad, Allah Esa dalam rububiyah-Nya, karena hanya Allah saja yang Memiliki dan Mengatur alam semesta, dan Allah esa di dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Allah saja yang berhak di ibadahi, Allah pun esa di dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena hanya Allah yang memiliki asma ulhusna dan hanya Allah yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, kemulian.

Ketika kita mengenal nama Al-Ahad maka kita harus mengesakan Allah dalam Rububiyah-Nya,uluhiyah-Nya dan di dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:

أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54).


Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (Luqman: 30)

Tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thiltahriftamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11) (Lihat Al-Qaulul Mufiiid  I/7-10).

Nama ini sangat besar pengaruhnya terhadap kekuatan jiwa seorang hamba dan keistiqomahannya dalam beragama, sebagaimana yang terjadi kepada Bilal bin Rabah RadhiyaAllahu ‘Anhu.

dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Yang pertama kali menampakkan keIslamannya ada tujuh orang; Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, ‘Ammar dan Ibunya Sumayyah, Shuhaib, Bilal dan Al Miqdad. Adapun Rasulullah ﷺ, Allah melindunginya dengan perantara pamannya. Abu Bakar Allah melindunginya dengan perantara kaumnya. Sedang yang lainnya, kaum musyrik telah menyiksanya, memakaikan baju dari besi dan meletakkan mereka di bawah terik matahari. Tidaklah salah seorang dari mereka melainkan telah memenuhi apa yang mereka inginkan. Kecuali Bilal, dirinya dihinakan oleh kaumnya karena Allah, mereka membawa dan memberikannya kepada anak-anak. Sehingga mereka membawanya berkeliling di sepanjang jalan-jalan Makah, sementara dirinya tetap mengatakan, “Ahad Ahad.” (HR. Ibnu Majah: 147 di hasankan oleh syekh al-Albani)

perhatikan bagaimana Bilal bin Rabah RadhiyaAllahu ‘Anhu menjadi sanga kuat dan kokoh di dalam mempertahankan aqidah dan agamanya ketika mengatakan Ahad artinya Allah Maha Esa, karena ketauhidan seorang hamba akan menjadikan hamba kuat dan kokoh di dalam kebenaran dan di dalam beragama.

Nama ini di sebutkan di dalam doa asmaul a’dzom yang artinya doa yang ketika di sebutkan doa ini maka Allah akan mendengar doa nya dan akan mengabulkan permintaannya.

Rasulullahi Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam tentangnya, dimana beliau pernah bersabda;

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ رَجُلاً يَقُولُ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الأَحَدُ الصَّمَدُ ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ ، الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ.

Artinya: “Dari Abdullah bin Buraidah Radhiyallāhu ‘Anhu berkata; “Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam pernah mendengar seorang berdoa; “Ya Allah aku memohon  kepadamu karena aku bersaksi sesungguhnya engakulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, (Engkaulah yang bersifat) Ash-Shamad yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada satu pun pembanding untuknya.” Maka Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam pun bersabda; “Sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang apabila Allah dimintai dengannya niscaya akan memberi, dan apabila dipanggil dengannya niscaya akan mengijabah”. (HR : Ahmad. At- Tirmidzi. Abu Dawūd. Ibnu Mājah dengan redaksi Hadits seperti yang di atas. dan An-Nasā’i dengan Sanad yang Shahīh.)

Ini yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan bisa kita pahami dan kita amalkan dalam kehidupan kita, barokallahu fikum.

Penulis :

Haidar Andika

Cianjur, 3 Ramadhan 1441 H

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER