Rabu, Februari 8, 2023
spot_img
BerandaFaedah Asmaul HusnaMUTIARA FATWA ULAMA KONTEMPORER TENTANG HARI RAYA NON MUSLIM, konsekuensi ibadah kepada...

MUTIARA FATWA ULAMA KONTEMPORER TENTANG HARI RAYA NON MUSLIM, konsekuensi ibadah kepada Nama Allah Al-AHAD.

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin pernah ditanya beberapa pertanyaan;

1 Apakah hukum ucapan selamat hari raya orang kafir seperti natal??

Syaikh menjawab,

فأجاب – رحمه الله – :
تهنئة الكفار بعيد ( الكريسميس ) أو غيره من أعيادهم الدينية حرام بالاتفاق ، كما نقل ذلك ابن القيّم – رحمه الله – في كتابه أحكام أهل الذمة ، حيث قال : وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يُهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول : عيد مبارك عليك ، أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلِمَ قائله من الكفر فهو من المحرّمات ، وهو بمنزلة أن تُهنئة بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشدّ مَـقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه . وكثير ممن لا قدر للدِّين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّـأ عبد بمعصية أو بدعة أو كـُـفْرٍ فقد تعرّض لِمقت الله وسخطه . انتهى كلامه – رحمه الله – .

“Ucapan selamat hari natal atau yang lainnya dari hari raya agama mereka diharamkan atas kesepakatan para ulama.

Telah dinukil dari Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya ahkam ahli zimmah, ia berkata:


“Ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar orang kafir yang itu kekhususan mereka maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan para ulama, seperti engkau mengucapkan “selamat hari raya bagimu”. Ucapan selamat ini jika tidak jatuh kekufuran maka ia jatuh pada hal yang diharamkan Allah. Dengan ucapan itu hakikatnya ia telah memberikan ucapan selamat atas sembahan mereka kepada salib, dan ini dosanya sangat besar dihadapan Allah. Bahkan lebih besar kemurkaan Allah atas ucapan ini daripada ucapan selamat kepada peminum khamr, pembunuh, penzina atau yg semisalnya.

Sayangnya, kebanyakan orang yg ang tidak kuat agamanya jatuh dalam dosa ini. Karena dia tidak mengerti jeleknya perbuatan ini disisi Allah. Alhasil, siapapun yang mengucapkan selamat atas ibadah yg didalamnya terdapat maksiat, bid’ah dan kekufuran, sungguh hal itu telah mengundang kemarahan dan kemurkaan Allah

2 Apakah berdosa jika melakukan itu tanpa ada niat mengagungkan perayaan mereka atau ridho atasnya?

Syaikh menjawab,

وإنما كانت تهنئة الكفار بأعيادهم الدينية حراما وبهذه المثابة التي ذكرها ابن القيم لأن فيها إقراراً لما هم عليه من شعائر الكفر ، ورِضىً به لهم ، وإن كان هو لا يرضى بهذا الكفر لنفسه ، لكن يَحرم على المسلم أن يَرضى بشعائر الكفر أو يُهنئ بها غيره ؛ لأن الله تعالى لا يرضى بذلك ، كما قال تعالى : ( إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ) .

“Karena itu ucapan selamat atas hari raya agama orang kafir haram hukumnya sebagaimana yg disebutkan Ibnu Qayyim. Karena ucapan itu sama saja seperti menyetujui syi’ar agama mereka, ridho kepada mereka. Walaupun ia tidak ridho atas kekufuran mereka, tetapi tetap saja seorang muslim dilarang ridho terhadap syiar-syiar agama mereka dan ucapan-ucapan selamat kepada mereka.

Mengapa demikian? Karen Allah tidak ridho dengan ibadah mereka.

Allah berfirman:
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya;” (QS.39:7).

3 Bagaimana cara kita menjawabnya jika mereka memberikan ucapan itu kepada kita?

Syaikh menjawab,

وإذا هنئونا بأعيادهم فإننا لا نُجيبهم على ذلك ، لأنها ليست بأعياد لنا ، ولأنها أعياد لا يرضاها الله تعالى ، لأنها أعياد مبتدعة في دينهم ، وإما مشروعة لكن نُسِخت بدين الإسلام الذي بَعَث الله به محمداً صلى الله عليه وسلم إلى جميع الخلق ، وقال فيه
(وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ )

“Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, maka kita tidak perlu menjawabnya, Karena itu bukan hari raya kita. Dan Karena hari raya itu tidak diridhoi Allah. Karena perayaan itu hanya dibuat buat oleh mereka. Kalaupun itu disyariatkan tentu sudah dihapus hukumnya dengan diutusnya Rasulullah ﷺ atas semua umat manusia,

Allah berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

4 Bolehkah pergi ke tempat-tempat yang bertepatan dengan perayaan mereka, atau menyerupai mereka?

Syaikh menjawab,

وإجابة المسلم دعوتهم بهذه المناسبة حرام ، لأن هذا أعظم من تهنئتهم بها لما في ذلك من مشاركتهم فيها
وكذلك يَحرم على المسلمين التّشبّه بالكفار بإقامة الحفلات بهذه المناسبة ، أو تبادل الهدايا ، أو توزيع الحلوى ، أو أطباق الطعام ، أو تعطيل الأعمال ونحو ذلك ، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : مَنْ تشبّه بقوم فهو منهم

“Menghadiri undangan bertepatan dengan perayaan mereka juga haram hukumnya, bahkan hadir dalam perayaan ini lebih besar dosanya daripada hanya sekedar memberikan ucapan selamat. Begitu juga kaum muslimin diharamkan menyerupai mereka seperti mengadakan perayaan-perayaan yang bertepatan dengan hari raya mereka, atau saling bertukar hadiah, atau membagikan permen, atau membagikan makanan dan meliburkan pekerjaan atau yang semisalnya.” Karena Nabi ﷺ telah bersabda:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu.

5 Apakah berdosa jika melakukan itu tanpa ada niat mengagungkan perayaan mereka? Karen berbuat baik atau malu atau berlapang dada atau sebab lainnya ??

Syaikh menjawab,

ومَنْ فَعَل شيئا من ذلك فهو آثم سواء فَعَلَه مُجاملة أو تَودّداً أو حياءً أو لغير ذلك من الأسباب ؛ لأنه من المُداهنة في دين الله ، ومن أسباب تقوية نفوس الكفار وفخرهم بِدينهم
والله المسؤول أن يُعزّ المسلمين بِدِينهم ، ويرزقهم الثبات عليه ، وينصرهم على أعدائهم . إنه قويٌّ عزيز
مجموع فتاوى ورسائل فضيلة الشيخ محمد بن صالح العثيمين ( جـ 3 ص 44 – 46 )

“Siapa saja yg melakukan perbuatan itu baik karena alasan toleransi atau saling cinta atau malu atau sebab-sebab yang lainnya maka ia telah berdosa besar, Karena perbuatan itu termasuk merendahkan agama Allah, dan sebab merasa kuat dan sombongnya orang kafir atas agama mereka.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keistiqomahan kepada kaum muslimin, menolong mereka dari musuh-musuh Allah, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Mulia.”
(Lihat: Majmu Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, jilid 3, hal:44-46).

Sodaraku… Inilah sebagian fatwa ulama abad ini tentang hari raya non muslim, dengan sedikit diringkas oleh penulis. Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkan beliau kedalam surga-Nya.

Faisal Mista

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER