Senin, Juni 27, 2022
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirMEMUJI ALLAH ﷻ NIKMAT YANG PALING UTAMA

MEMUJI ALLAH ﷻ NIKMAT YANG PALING UTAMA

MEMUJI ALLAH NIKMAT YANG PALING UTAMA

ALHAMDU (pujian) adalah nikmat Allah ﷻ  yang paling utama atas hamba-hamba-Nya, ia lebih utama dan lebih agung daripada nikmat-nikmat berupa rejeki, kesehatan, dan kelapangan dunia. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda:

ما أنعم اللهُ على عبدٍ نعمةً فقال الحمدُ للهِ إلا كان الذي أعطاهُ أفضلَ مما أخذ

Artinya: “tidaklah Allah ﷻ memberikan nikmat kepada seorang hamba suatu nikmat lalu dia berkata;’Segala puji bagi Allah, kecuali apa yang dia berikan lebih utama daripada yang dia ambil.” [HR.Ibnu Majah].

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam tafsirnya bahwa sebagian pembantu Umar bin Abdul Aziz menulis kepadanya, aku berada di negeri yang telah banyak nikmat padanya, hingga aku merasa iba terhadap penduduknya karena lemahnya kesyukuran. Maka Umar menulis kepadanya, ‘sungguh aku melihatmu lebih tahu tentang Allah  ﷻ daripada keadaanmu sendiri, sungguh Allah ﷻ  tidaklah memberikan sesuatu nikmat kepada hamba-Nya lalu ia memuji Allah atasnya, melainkan pujian itu lebih nikmat daripada nikmatnya. Meski engkau tidak mengetahui hal itu kecuali dalam kitab Allah ﷻ  yang diturunkan. Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ عِلۡمٗاۖ وَقَالَا ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّنۡ عِبَادِهِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Artinya: “sungguh kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman, lalu keduanya berkata ‘segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman’.” [QS.An-Naml-15].

Disini terdapat petunjuk yang sangat jelas bahwa Alhamdulillah (pujian kepada Allah), merupakan nikmat yang paling utama daripada nikmat itu sendiri.

Dari sini menjadi jelas makna hadits terdahulu, tidaklah Allah ﷻ memberikan nikmat kepada seseorang, lalu dia mengucapkan Alhamdulillah, melainkan apa yang diberikan lebih utama dari apa yang ia ambil. Si hamba memberikan pujian, sementara pujian itu sendiri merupakan nikmat Allah ﷻ atasnya. Kalau bukan taufik dan pertolongan Allah ﷻ atas hamba, niscaya dia tidak akan menunaikan pujian. Maka nikmat Allah berupa taufik untuk memuji lebih utama daripada nikmat Allah ﷻ berupa kesehatan, keselamatan, harta dan yang lainnya. Meski semuanya adalah nikmat Allah.

Ibnu Qayyum berkata: “nikmat syukur lebih agung daripada nikmat harta, kedudukan, anak, istri, dan yang semisalnya.” [lihat: iddatushabirin karya beliau].

Oleh karena itu, Imam As-Syafi’i  berkata tentang pujian kepada Allah: “segala puji bagi Allah yang tidak ditunaikan kesyukuran atas suatu nikmat diantara nikmat-nikmatNya, kecuali mendapatkan nikmat baru yang mengharuskan bagi yang menunaikannya untuk mensyukurinya pula.” [dalam tafsir Ibnu Katsir]

Ya Allah bagi-Mu pujian sebagai bentuk kesyukuran, bagi-Mu pemberian sebagai karunia, bagi-Mu pujian dengan sebab Islam, bagi-Mu pujian dengan sebab Iman, bagi-Mu pujian dengan sebab Al-Quran, bagi-Mu pujian dengan sebab keluarga, harta, keselamatan dan bagi-Mu pujian dengan sebab semua nikmat yang Engkau berikan kepada kami yang lama maupun yang baru, yang tersembunyi ataupun terang-terangan, khusus atau umum, bagi-Mu pujian atas semua itu dengan pujian hamba-Nya. Ya Allah bagi-Mu pujian hingga Engkau ridho, dan bagi-Mu pujian wahai Rabb kami jika Engkau ridho.

(tulisan ini ringkasan dari buku Fiqih Do`a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazaq hafidzahullah)

وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وسلم

Faisal Mista,

Cianjur, Komp.Masjid Al-Bayaan

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER