Senin, Maret 4, 2024
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirMAKNA ALHAMDU DAN PERBEDAANNYA DENGAN SYUKUR

MAKNA ALHAMDU DAN PERBEDAANNYA DENGAN SYUKUR

MAKNA ALHAMDU DAN PERBEDAANNYA DENGAN SYUKUR

Adapun makna ‘alhamdu’ dalam bahasa adalah lawan dari kata celaan. Ibnu Faris berkata dalam Mu’jam Maqayis Lughoh, “huruf حم’ dan ‘د’ adalah satu kalimat dan asalnya juga satu, menunjukkan kepada lawan dari celaan. Dikatakan ‘حمدت فلانا’ hamidtu fulaanan artinya aku memuji si fulan. Seseorang disebut ‘mahmud’ atau ‘muhammad’ jika sangat banyak padanya sifat-sifat terpuji tanpa ada celaan. Berdasarkan apa yang kami sebutkan ini, maka Nabi kita diberi nama Muhammad ﷺ. [lihat Mu’jam Maqayis Lughoh Ibnu Faris].

Kata ‘alhamdu’ adalah pujian yang berkenaan dengan suatu anugerah, maka ia lebih khusus dari ‘al madhu’ dan lebih umum dari ‘syukur’. Karena al-madhu’ (sanjungan) digunakan untuk sesuatu yang berasal dari manusia atas dasar pilihannya, dan juga untuk sesuatu yang bukan usahanya. Kata ‘al-madhu’ terkadang digunakan untuk memuji seseorang karena kelangsingan tubuhnya atau kecerahan wajahnya. Sebagaimana kata ini digunakan pula untuk memuji seseorang atas perbuatannya seperti menginfaqkan hartanya, keberanianya, ilmunya dan yang semisalnya, diantara perbuatan yang diusahakannya. Namun, kata ‘alhamdu’ tidak digunakan untuk memuji seseorang atas kecerahan wajahnya atau kelangsingan tubuhnya serta yang lainnya yang bukan dari usahanya.

Sedangkan ‘syukur’ tidak digunakan kecuali dalam membalas suatu nikmat. Semua syukur adalah ‘alhamdu’. Namun tidak semua ‘alhamdu’ adalah ‘syukur’. Begitu pula semua ‘alhamdu’ adalah ‘al-madhu’, namun tidak semua ‘al-madhu adalah alhamdu. [lihat Basha’ir Dzawi Tamyiz karya Fairuz Abadi].  

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang ‘alhamdu’ dan syukur, apakah hakikat keduanya? Apakah keduanya semakna atau dua makna?, kapan digunakan kalimat ‘alhamdu’ dan kapan syukur?, maka beliau menjawab: “kata ‘alhamdu mengandung pujian dan sanjungan atas apa yang dipuji dengan menyebut kebaikan-kebaikannya, sama saja kebaikan itu terhadap yang memuji atau kepada yang lainnya. Sedangkan syukur tidak digunakan kecuali atas kebaikan yang disyukuri terhadap yang bersyukur. Dari sisi ini maka makna ‘alhamdu’ lebih umum dari ‘syukur’, karena ia digunakan untuk keindahan dan kebaikan. Sebab Allah dipuji karena apa yang ada padanya dari asmaulhusna-Nya dan sifat-Nya yang tinggi, serta apa yang Dia ciptakan pada permulaan dan pengakhiran. Karena itu Allah ﷻ berfirman:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَۖ

Artinya: “segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi serta menjadikan padanya kegelapan dan cahaya…” [QS.Al-An’am:1].

Juga firman-Nya:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَهُ ٱلۡحَمۡدُ فِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ

Artinya: “segala puji bagi Allah yang milik-Nya apa yang ada dilangit dan apa yang dibumi, dan baginya pujian di akherat..” [QS.Saba’:1].

Adapun syukur, sungguh ia tidak terjadi kecuali atas suatu nikmat. Maka ia lebih khusus daripada ‘alhamdu’ dari sisi ini. Akan tetapi ia bisa dilakukan dengan hati, tangan dan lisan. Oleh karena itu Allah berfirman:

ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ

Artinya: “maka kerjakanlah wahai keluarga Daud kesyukuran”.. [QS.Saba’:13].

Sedangkan ‘alhamdu’ hanya dilakukan dengan hati dan lisan. Maka dari sisi ini, syukur lebih umum dari segi jenis-jenisnya, sedangkan pujian lebih umum dari segi sebab-sebabnya. Maka ‘alhamdu’ adalah penghulu syukur, siapa yang tidak memuji Allah berarti ia tidak bersyukur kepada-Nya. Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ اللهَ ليرْضَى عَنِ العبْدِ أنْ يأكلَ الأكلَةَ فيحمَدَه عليها، أو يَشْربَ الشَّرْبَةَ فيحمَدَه عليها

Artinya: “Sungguh Allah ridho dari si hamba, bila makan makanan lalu memuji-Nya, dan minum minuman lalu memuji-Nya atas hal itu. [HR.Muslim].

Jika dikatakan ‘alhamdu’ semuanya untuk Allah ﷻ, maka hal ini mengandung dua makna:

Pertama, bahwa Dia terpuji atas segala sesuatu, dan inilah pujian yang dipuji dengannya para rasul-Nya, para nabi-Nya, dan pengikut-pengikut mereka. Yang demikian itu termasuk pujian-Nya tabaraka wata’ala. Bahkan Dia-lah yang menjadi maksud pertama pujian itu secara dzatnya. Sedangkan apa yang didapat oleh makhluk dari pujian hakikatnya mereka dapatkan dari pujian-Nya.

Kedua, dikatakan ‘untuk-Mu pujian seluruhnya’, yakni yang cukup dan sempurna. Ini khusus bagi Allah tidak ada bagi selain-Nya persekutuan padanya.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, pujian yang banyak, pujian yang baik dan berkah pada-Nya, sebagaimana yang dicintai Rabb kita dan diridhoi-Nya.

(tulisan ini ringkasan dari buku Fiqih Do`a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazaq hafidzahullah)

وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وسلم

Faisal Mista,

Cianjur, Komp.Masjid Al-Bayaan

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER