Selasa, Agustus 2, 2022
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirKONSEKUENSI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT TERHADAP PENGARUH-PENGARUHNYA DARI PERIBADATAN KEPADA ALLAH

KONSEKUENSI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT TERHADAP PENGARUH-PENGARUHNYA DARI PERIBADATAN KEPADA ALLAH

KONSEKUENSI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT TERHADAP PENGARUH-PENGARUHNYA DARI PERIBADATAN KEPADA ALLAH

Diantara faidah-faidah dzikir kepada Allah dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, bahwa pengetahuan tentang asmaul husna  (nama-nama Allah yang paling indah) dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, mengharuskan adanya pengaruh-pengaruhnya yang berupa peribadatan, seperti tunduk, rendah, khusyu’, taubat, takut, gentar, cinta, tawakal, dan selain itu diantara jenis-jenis ibadah yang lahir maupun batin. Bahkan setiap sifat di antara sifat-sifat Rabb Tabaraka wata’ala memiliki peribadatan khusus, dan ia merupakan konsekuensinya dan hasil dari ilmu tentangnya, serta kepastian pengetahuan tentangnya. Ini berlaku umum pada semua jenis-jenis peribadatan yang ada di hati maupun anggota badan. ( Lihatlah dalam masalah ini kitab Miftaah Daar As-Sa’adah, karya Ibnu Al-Qayyim, hal. 424)

Penjelasan bagi hal itu, bahwa seorang hamba jika mengetahui keesaan Rabb Tabaraka wata’ala dalam hal madharat, manfaat, pemberian, pencegahan, penciptaan, rizki, menghidupkan, dan mematikan, maka hal itu membuahkan baginya peribadatan tawakal, kepada Allah secara batin, konsekuensi-konsekuensi dari tawakal, dan buah-buahnya secara lahir. Allah berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

“Bertawakallah kepada yang Maha Hidup dan tidak mati.” (QS. Al-Furqan: 58)

Apabila seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, tak tersembunyi  bagi-Nya sebesar dzarrah di langit dan di bumi, bahwa Dia mengetahui rahasia dan yang tersembunyi, mengetahui khianat mata dan apa-apa yang disimpan  dalam dada, Allah tabaraka wata’ala meliputi segala sesuatu dengan ilmu, dan menghitung segala sesuatu, maka barang siapa yang mengenal dirinya dalam pengawasan Allah, penglihatan dan peliputan-Nya, maka hal itu membuahkan baginya penjagaan lisan dan anggota badan serta bisikan-bisikan hati, dari segala yang tidak diridhai Allah, lalu menjadikan kaitan anggota-anggota badan ini sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Allah berfirman :

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada pada diri-diri kamu, maka berhati-hatilah terhadapnya.” (QS. Al-Baqarah: 235)

Tidak diragukan, pengetahuan seperti ini akan melahirkan bagi seorang hamba, rasa takut kepada Allah dan pengawasannya, menghadap kepada ketaatan pada-Nya, dan menjauh dari larangan-larangan-Nya.

Ibnu Rajab berkata, “Seorang laki-laki menggoda seorang perempuan di tempat tak berpenghuni di malam hari, namun perempuan itu menolak, maka si laki-laki berkata kepadanya, ‘Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.’ Maka perempuan itu berkata, ‘Lalu dimana yang membuat bintang itu bersinar?” Yakni, di mana Allah yang senantiasa melihat kita. Pengetahuan tersebut telah mencegahnya mengerjakan dosa dan terjerumus dalam kesalahan.

Apabila seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia, Maha Baik, lagi Maha Penyayang, luas kebaikan-Nya, dan Dia di samping tidak butuh kepada hamba-hamba-Nya, Dia berbuat baik dan penyayang terhadap mereka, menginginkan kebaikan bagi mereka, menghilangkan madharat dari mereka, bukan untuk mendatangkan manfaat bagi diri-Nya dari si hamba, bukan pula untuk menolak suatu madharat, bahkan semata-mata sebagai rahmat darinya dan kebaikan. Allah tidak menciptakan ciptaan-Nya untuk memperbanyak jumlah dengan sebab mereka dari kehinaan, bukan pula untuk memberi-Nya rizki, memberi-Nya manfaat, atau membela-Nya. Allah berfirman seperti yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:  

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِ

“Wahai hamba-Ku, sungguh kamu tidak akan mencapai mudharat-Ku lalu kamu memadharatkan-Ku dan kamu tidak akan mancapai manfaat-Ku lalu kamu memberi-Ku manfaat.” (HR. Muslim, no. 6737)

Apabila seorang hamba mengetahui hal itu, niscaya akan membuahkan baginya kekuatan harapan-kekuatan harapannya pada Allah serta keinginannya terhadap apa yang di sisi-Nya, menyerahkan semua kebutuhan kepada-Nya, serta menampakan kefakirannya pada-Nya dan kebutuhannya terhadap-Nya. Kemudian jika seorang hamba mengetahui keadilan Allah, pembalasan-Nya, kemarahan-Nya, kemurkaan-Nya, dan siksaan-Nya, maka sungguh hal ini melahirkan baginya rasa takut, kehati-hatian, dan menjauh dari kemurkaan-kemurkaan Rabb. Allah berfirman :

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

 “Takutlah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 196)

Jika seorang hamba mengetahui keagungan Allah, kebesaran-Nya, dan ketinggian-Nya atas ciptaan-Nya baik dzat, pemaksaan, dan kedudukan, maka sungguh ini membuahkan baginya ketundukan, kerendahan, kecintaan dan semua jenis-jenis ibadah. Apabila seorang hamba mengetahui kesempurnaan Allah dan keindahan-Nya, maka hal ini mewajibkan baginya kecintaan khusus dan kerinduan besar kepada perjumpaan dengan Allah. “Dan siapa cinta berjumpa Allah, niscaya Allah cinta berjumpa dengan-Nya.” Allah berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia mengamalkan amalan yang shalih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya sesuatu pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Muhammad waalihi wasohbihi ajma’in.

Al-Bayaan Cianjur, Ahad 23 Agustus  2020/ 04 Muharram 1442 H

Penulis: Adep Baehaki

Sumber : Diringkas dari buku Fikih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazaq Bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr -Hafidzahumallahu-    

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER