Rabu, Agustus 3, 2022
spot_img
BerandaPenjelasan Asmaul HusnaAs-Sittir (Yang Maha Menutupi)

As-Sittir (Yang Maha Menutupi)

As-Sittir (السِتِّيْرُ)

Yang Maha Menutupi

Dalil Penetapan:

إِنَّ اللّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسِتْرَ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Maha Pemalu lagi Maha Menutupi, Dia mencintai sifat malu dan menutupi (aib/aurat).” (HR. Abu Dawud: 4014, an-Nasa’I: 409, dishahihkan oleh al-Albani)

As-Sittir adalah Yang Maha Menutupi hamba-hamba-Nya, Dia tidak membongkar keburukan mereka dikhalayak ramai, Yang Maha Menyukai hamba-hamba-Nya yang menutupi diri-diri mereka dari apa yang dapat menjelekan nama baik, menghinakan dan memperburuk diri mereka, dan ini adalah keutamaan dan rahmat dari Allah, kesantunan, dan kemuliaan dari Allah ta’ala.

Do’a Ibadah:

  1. Nabi صلى الله عليه وسلم mengumumkan nama As-Sittir, lalu menjelaskan maknanya, yaitu saat beliau melihat seorang lelaki mandi setelah buang hajat tanpa busana:

فَإِذَااغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ  إِنَّ اللّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسِتْرَ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Maha Pemalu lagi maha menutupi, Dia mencintai sifat malu dan menutupi (aib/aurat), maka apabila seseorang diantara kalian hendak mandi setelah buang hajat ia menutup aurat.” (HR. Abu Dawud: 4014, at-Tirmidzi: 409, dishahihkan oleh al-Albani).

2. Tabir Allah di dunia akan berlangsung sampai di akhirat jika seorang hamba menjaga tabir Allah tersebut dengan menutup aib dirinya sendiri:

 يَدْنُو أحَدُكُمْ مِن رَبِّهِ حتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عليه، فيَقولُ: أعَمِلْتَ كَذَا وكَذَا؟ فيَقولُ: نَعَمْ، ويقولُ: عَمِلْتَ كَذَا وكَذَا؟ فيَقولُ: نَعَمْ، فيُقَرِّرُهُ، ثُمَّ يقولُ: إنِّي سَتَرْتُ عَلَيْكَ في الدُّنْيَا، وأَنَا أغْفِرُهَا لكَ اليومَ .

“Seorang diantara kalian akan mendekati Rabb-Nya -pada hari kiamat-, hingga Allah menutupinya, lalu berfirman kepadanya: ‘engkau melakukan kejahatan begini dan begini?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Allah membuatnya mengakui –semuanya-, lalu berfirman kepadanya: ‘sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia dan aku mengampuninya untukmu hari ini.’” (HR. Al-Bukhari: 6070)

3. Allah memberikan seseorang kesempatan untuk memperoleh penutupan dari Allah, yaitu dengan menutupi aib orang lain, sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari: 2442, Muslim: 6743)

4. Menutupi aib orang lain termasuk hal yang sangat dianjurkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم :

يا معشر من آمن بلسانه ولم يدخل الإيمان قلبه، لا تغتابوا المسلمين، ولا تتبعوا عوراتهم، فإنه من اتبع عوراتهم يتبع الله عورته، ومن يتبع الله عورته يفضحه في بيته

“Wahai orang-orang yang beriman dangan lisannya namun iman belum masuk hatinya, jangan kalian menggunjing kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan mereka, karena siapa yang mencari-cari kekurangan mereka niscaya Allah pun akan mencari kekurangannya, dan siapa yang Allah cari kekurangannya niscaya Allah akan mempermalukannya dari dalam rumahnya sendiri.” (HR. Abu Dawud: 4882, dishahihkan oleh al-Albani)

5. Allah menutupi hamba-hamba-Nya dengan memberinya hak pribadi dalam tiga waktu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاةِ الْعِشَاءِ ثَلاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’ (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu, tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu, mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu,  dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nuur: 58)

Do’a Permohonan:

  1. Nabi صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkan do’a berikut di pagi dan sore hari:

اللّهَمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ

“Ya Allah, tutupilah kekuranganku dan berilah rasa aman dari ketakutanku.” (HR. Abu Dawud: 5076, Ibnu Majah: 4004, dishahihkan oleh al-Albani)

2. Tidak disebutkan nama as-Sittir dalam do’a yang ma’tsur dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, namun ia merupakan nama yang digunakan untuk menyanjung dan mengagungkan Allah.

Wallahu a’lam..

Sumber:

  1. The Miracle of Asmaul Husna: Muallifah
  2. Fiqih Asmaul husna : Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr

Cianjur, 5 Ramadhan 1441 H / 28 April 2020

Oleh: Ade Abdurrahman

ARTIKEL TERKAIT

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER