AL-LATHIF (Yang Maha Lembut dan Halus)

PENETAPAN DALIL

Allah telah menyebutkan nama Al-Lathif didalam Al-Qur’an pada beberapa tempatdiantaranya :

أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk : 14)

MAKNA AL-LATHIF

Al-Lathif berarti Allah Yang Maha Lembut kepada hamba-Nya, atau untuk hamba-Nya. (The Miracle of Asmaul Husna : 268)

Imam Al-Khathabi beliau mengatakan bahwa Al-Lathif adalah Allah-lah yang bersikap lembut kepada hamba-hamba-Nya tanpa mereka sadari dan yang menjadikan kebaikan mereka tanpa mereka perkirakan sebelumnya. ( Sya’n ad-Du’a: 62)

DO’A IBADAH

Kelembutan Allah Al-Lathif kepada hamba-hamba-Nya sangatlah banyak, diantaranya :

• Allah memberikan kewalian kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan kelembutan-Nya. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari kejahilan menuju ilmu, dari kekufuran menuju keimanan, dari kebid’ahan menuju sunnah, dari kesyirikan menuju ketauhidan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari keburukan menuju kebaikan. Bahkan dengan kelembutannnya Allah sendiri yang menyatakan bahwa Dia akan menjadi wali bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (QS Al-Baqarah : 257)

Maka beruntunglah orang yang Allah menjadi wali baginya, karena dengan kelembutan-Nya Allah akan menolongnya, akan menjaganya, akan memberikan kemudahan dalam segala urusannya bahkan sebagai walinya Allah, maka dia tidak akan merasa ketakutan maupun kesedihan baik selama hidupnya didunia maupun diakhirat kelak.

• Allah Al-Lathif melindungi orang-orang yang beriman dari menaati jiwa yang senantiasa menyuruh kepada kejelekan yang merupakan tabiatnya.

Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf : 53)

Allah menahan mereka dari nafsu dan memalingkan mereka dari kekejian dan kejelekan, meski jalan-jalan fitnah, maksiat dan syahwat terbentang dihadapannya.

• Diantara kelembutan Allah kepada hamba-Nya adalah menganugerahkan kepadanya saudara-saudara yang shalih, teman-teman bertakwa yang dapat membantunya untuk berbuat kebaikan, mendukungnya untuk istiqomah, dan menjauhi segala jalan kebinasaan dan kesesatan. Maka beruntunglah orang yang disekelilingnya adalah orang-orang yang shalih, orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, saudara-saudara yang saling mencintai karena Allah dan membenci pun karena Allah. Mereka akan saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan ketaqwaan. Persaudaraan mereka itulah persaudaraan yang kekal, persaudaraan yang dibangun diatas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Sebagaimana Allah firmankan:

الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk mendapatkan teman yang bertaqwa dan bersyukur apabila kita telah berada pada lingkungan orang-orang yang bertaqwa karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memotivasi umatnya agar memilih teman yang shalih dan mengambil manfaat dari pertemanan mereka.

Sebagaimana dalam hadis disebutkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Bahkan dalam hadis yang lain Rasulullah melarang seseorang untuk tidak berteman kecuali dengan orang yang beriman 

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ

Dari Abu Sa’id dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”(HR. At-Timidzi, No 2397 dan Abu Dawud, No 4832) 

DO’A PERMOHONAN

Nama Al-Lathif tidak disebutkan dalam do’a yang ma’tsur baik di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, namun Al-Lathif merupakan nama yang digunakan untuk menyanjung dan mengagungkan Allah. 

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘Ala Nabiyina Muhammad wa ‘Ala Alihi wasohbihi wasallam. 

Cianjur, 04 Jumadil Akhiroh / 29 Januari 2020. 

Penulis : Adep Baehaki, Lc 

Sumber : 

The Miracle Of Asmaul Husna Karya Muallifah 

Sya’n Ad-Du’a Karya Abu Sulaiman Hamad ibn Muhammad Al-Khattabi 

Fiqih Asmual Husna Karya Prof.Dr Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al’Abbad Al-Badr

Adab Penuntut Ilmu Karya Dr. Anas Ahmad Karzun 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here