Rabu, Februari 8, 2023
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirPERINGATAN TERHADAP DOA YANG BERLEBIHAN

PERINGATAN TERHADAP DOA YANG BERLEBIHAN

PERINGATAN TERHADAP DOA YANG BERLEBIHAN

Diantara ketentuan dalam berdoa kepada Allah adalah tidak berlebihan dalam meminta. Maksud dari berlebihan dalam berdoa adalah meminta sesuatu yang berlebihan dan tidak semestinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf : 55).

Ayat di atas mengandung perintah untuk berendah diri dalam berdoa dan larangan untuk berlebih-lebihan dalam berdoa, dan bahwasanya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan-lebihan dalam segala sesuatu. Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu menafsirkan sikap berlebih-lebihan dalam ayat ini dengan berlebih-lebihan dalam berdoa. Akan tetapi hendaknya yang diminta oleh seorang muslim adalah kebaikan dunia dan akhiratnya.

Diantara bentuk berlebih-lebihan dalam berdoa adalah doa meminta keburukan ditimpakan bagi orang lain, meminta suatu perkara yang terlarang secara syar’i, meminta suatu hal yang sifatnya terperinci, memaksakan sajak dalam berdoa atau meminta hal-hal yang mustahil tejadi.

Dari Abu Nu’amah bahwasanya Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu mendengar anaknya membaca doa :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الْأَبْيَضَ، عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا

“Ya Allah berilah kami istana putih di sisi kanan Surga”.

Mendengar ini, ayahnya spontan memberi nasehat kepada anaknya :

أَيْ بُنَيَّ، سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ، وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ»

“Wahai anakku mintalah kepada Allah Surga dan berlindunglah kepada-Nya dari api Neraka, sebab saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Akan muncul dari umatku sekelompok kaum yang berlebihan dalam bersuci dan berdoa”

(HR. Ahmad 20554, Abu Daud 96, Ibnu Majah 3864, Syuaib Al-Arnauth menilai hadis ini hasan).

Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu melarang anaknya berdoa seperti itu karena permintaan tersebut tidak sesuai dan tidak mungkin bisa diraih oleh amal perbuatannya. Dimana dia meminta kedudukan para nabi dan para wali. Beliau memahami permintaan seperti itu termasuk berlebihan dalam berdoa, serta tidak pantas karena menganggap sempurna terhadap diri sendiri. [Faidhul Qadir 4/130]

Syaikhul Islam mengatakan,

ونوع من الدعاء ينهى عنه: الاعتداء مثل أن يسأل الرجل ما لا يصلح من خصائص الأنبياء وليس هو بنبي وربما هو من خصائص الرب سبحانه وتعالى

Diantara bentuk doa yang terlarang adalah bersikap melampaui batas ketika berdoa seperti memohon sesuatu yang tidak selayaknya, yang menjadi kekhususan para nabi padahal dia bukan seorang nabi atau memohon sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Subhanahu wa ta’ala.

مثل أن يسأل لنفسه الوسيلة التي لا تصلح إلا لعبد من عباده أو يسأل الله تعالى أن يجعله بكل شيء عليما أو على كل شيء قديرا وأن يرفع عنه كل حجاب يمنعه من مطالعة الغيوب

Misalnya memohon agar dia menduduki posisi wasilah, yang hanya boleh dimiliki oleh salah satu hamba Allah, atau memohon agar dia diberi kemampuan untuk bisa mengetahui segala sesuatu, atau berkuasa atas segala sesuatu atau memohon agar diperlihatkan sesuatu yang ghaib.

Termasuk berlebihan dalam berdoa, membatasi kebaikan hanya untuknya, dan tidak boleh untuk yang lain. Misalnya, seseorang berdoa, Ya Allah, berikanlah aku karunia dan jangan Engkau berikan yang lainnya. Kasus semacam ini pernah terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : “Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad dan janganlah Engkau memberi rahmat-Mu kepada selain kami.

Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا

“Kamu telah menyempitkan yang luas.” Maksud beliau adalah rahmat Allah. (HR. Bukhari 6010)

Do’a di atas diucapkan oleh seorang baduwi karena ketidaktahuannya dan baru mengenal Islam. Seharusnya seseorang berdoa untuk dirinya dan teman-temannya agar pahalanya bertambah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan ummatnya dari berlebihan dalam berdoa dan bahwasanya akan ada segolongan dari ummatnya yang melakukan hal tersebut. Maka tidak ada jalan keselamatan kecuali dengan mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa dan mencukupkan diri dengan sunnahnya. Maka setiap doa yang menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi petunjuk beliau dalam berdoa, dapat dikatakan berlebih-lebihan dalam berdoa.

Berlebihan dalam berdoa pun bertingkat-tingkat, sebagian sampai derajat kekufuran dan sebagian lainnya dibawah kekufuran. Seperti seseorang yang memohon kesembuhan atau dijauhkan dari marabahaya kepada selain Allah, maka ini adalah sebesar-besar berlebihan dalam berdoa.

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? QS. Al-Ahqof: 5

Pertanyaan dalam ayat diatas merupakan pertanyaan pengingkaran, bahwasanya tidak ada lagi yang lebih sesat dari orang yang menyembah dan berdoa kepada selain Allah. Mereka meninggalkan berdoa kepada Allah yang maha mendengar kemudian meminta kepada sesuatu yang lemah dan tidak mampu mengabulkan doa. Hal ini merupakan sikap paling berlebihan dalam berdoa dan paling berbahaya.

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Al-A’rof: 194

Sumber :

Fiqih Doa dan Dzikir Syaikh Abdurrozzaq

konsultasisyariah.com

Cianjur, 13 Agustus 2020

Oleh : Muhammad, M.Pd.I

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER