DZIKIR-DZIKIR TIDUR (LANJUTAN)

Sungguh di antara doa-doa berkah yang biasa dikerjakan Rasulullah  secara kontinyu ketika kembali ke pembaringannya untuk tidur, adalah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, dari hadits Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila kembali ke tempat pembaringannya beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ 

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta mencukupi kebutuhan kami dan memberikan kami tempat berlindung, karena masih banyak orang yang tidak mempunyai kecukupan dan tempat berlindung.” (Shahih Muslim)

Dalam doa ini terdapat kesadaran dari seorang Muslim ketika hendak tidur akan hari-harinya, masa-masanya, waktu-waktunya yang telah lalu, dan apa yang diberikan Allah padanya berupa makanan, minuman, kecukupan dan tempat tinggal. Pada saat banyak manusia tidak memiliki makanan yang mengenyangkan dan mencukupi kebutuhan gizinya, atau minuman yang menghilangkan kehausan dan memuaskannya, atau pakaian yang menutupinya, atau tempat tinggal untuk beristirahat padanya dan tempat kembali setelah beraktivitas, bahkan di antara mereka ada yang diwafatkan Allah dalam kelaparan yang memprihatinkan dan kekeringan yang mengenaskan. Barang siapa dimuliakan Allah dengan makanan dan minuman serta diberi kecukupan maupun tempat tinggal, wajib baginya menyadari agungnya nikmat Allah atasnya, dan besarnya pemberian Allah baginya, di mana dimudahkan baginya makanan, minuman serta dimuliakan dengan kecukupan dan tempat tinggal.

Mensyukuri nikmat menyebabkan keberlangsungannya dan tambahan. Allah berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

  Lafadz, Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum…” di sini terdapat sanjungan kepada Allah dan pujiannya atas kecukupan nikmat-Nya, kesinambungan karunia dan pemberian-Nya, limpahan pamrihnya, keluasan kebaikan-Nya, dan kemuliaan anugerah-Nya. Hanya Dia pemilik pujian dan sanjungan.

Lafadz, “Mencukupi kami.” yakni; menolak dari kami keburukan hal-hal yang menyakitkan dan melindungi kami dari gangguan apapun yang menyerang kami. Dikatakan, maknanya adalah mencukupi kami dari kepentingan-kepentingan kami dan memenuhi untuk kami kebutuhan-kebutuhan kami. Di sini tidak mengapa bila kedua makna itu dimaksudkan sekaligus. Sebab masing-masing dari keduanya masuk pada makna mencukupi dan berada dalam kandungannya.

Lafadz, “Dan memberi tempat tinggal bagi kami,” yakni; memudahkan bagi kami tempat bernaung yang kami kembali padanya (setelah beraktivitas), menganugerahkan kepada kami tempat untuk tinggal padanya, mengembalikan kami ke rumah untuk beristirahat padanya, dan tidak menjadikan kami bertebaran seperti hewan ternak tanpa tempat tinggal dan tanpa tempat bernaung. Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya akan nikmat-Nya ini:

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا

“……Allah menjadikan bagimu rumah sebagai tempat tinggal….”  (QS. An-Nahl: 80 )

Di antara wirid-wirid yang dinukil dari Nabi  ketika hendak tidur adalah apa yang tercantum dalam Ash-Shahihain, dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Fathimah datang kepada Nabi ﷺ meminta seorang pembantu. Maka beliau bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ

“maukah engkau aku beritahu apa yang lebih baik bagimu daripada itu, ‘Hendaklah engkau bertasbih kepada Allah saat akan tidur sebanyak 33 kali, memuji Allah 33 kali, bertakbir kepada Allah 34 kali.”

Ali berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sesudah itu.” Ditanyakan kepadanya, “Tidak juga malam Shiffin? Beliau berkata, “Tidak juga malam Shiffin.”

Fathimah binti Rasulullah  mengeluh kepada Rasulullah  tentang apa yang dia dapatkan berupa kesulitan yang dialaminya ketika menumbuk gandum, menimba air, dan melayani suami. Fathimah meminta pada Rasulullah ﷺ untuk memberinya pembantu (dan ini meliputi laki-laki dan perempuan), untuk meringankan apa yang dia dapati berupa kelelahan dan kesulitan akibat pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Beliau  menunjukan kepadanya apa yang lebih baik baginya daripada pembantu. Beliau ﷺ bersabda, “Maukah engkau aku beritahu yang lebih baik bagimu daripada itu,” yakni daripada pembantu. Dalam pernyataan ini terdapat kebagusan nasihat dan kesempurnaan menarik minat, sebagaimana hal itu sangat jelas. Ketika jiwa Fathimah telah siap dan penasaran untuk mengetahui perkara yang lebih baik dari apa yang dia minta itu, maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Bertasbihlah ketika hendak tidur sebanyak 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali,” yakni ucapkanlah ketika engkau telah menyiapkan tempat tidur ‘subhanallah’ 33 kali, ‘alhamdulillah’ 33 kali, dan ‘Allahu akbar’ 34 kali, sehingga jumlahnya menjadi 100 kali.

Fathimah sangat gembira dengan kebaikan agung ini yang ditunjukan oleh pemberi nasehat terpercaya . Begitu pula suaminya Ali bergembira dengannya, hingga beliau berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sesudahnya,” yakni; sesudah mendengarnya.

Kemudian, para ahli ilmu telah berdalil dengan hadits ini, bahwa di antara keutamaan dzikir dan faidahnya yang agung, bahwa ia memberi kepada yang berdzikir berupa kekuatan badan, kesehatan, semangat, dan tekad. Sehubungan dengan hal ini, Ibnu Qoyyim berkata, “Dzikir memberikan kepada yang berdzikir berupa kekuatan, hingga dia melakukan bersama dengan dzikir apa yang dia tidak mampu lakukan tanpa dzikir. Sungguh aku telah menyaksikan kekuatan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam berjalan, berbicara, bersegera, menulis perkara-perkara yang menakjubkan…” kemudian beliau menyebutkan hadits Ali terdahulu lalu berkata sesudahnya, “Dikatakan, ‘Sesungguhnya orang yang mengerjakan hal itu secara rutin, niscaya akan mendapatkan kekuatan pada badannya yang membuatnya tidak butuh kepada pembantu. (Al-Waabi Ash-Shayyib, hal. 155-156)

Beliau menukil pula dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa beliau berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa siapa yang kontinyu mengucapkan kalimat-kalimat itu, niscaya tidak ditimpa kelelahan akibat apa-apa yang dihadapinya dari kesibukan dan selainnya.”

(Al-Waabi Ash-Shayyib, hal. 206)

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Muhammad waalihi wasohbihi ajma’in. 

Al-Bayaan Cianjur, Ahad 19 September  2021/ 12 Shafar 1443 H

Penulis: Adep Baehaki

Sumber: Diringkas dari buku Fikih Do’a dan Dzikir jilid 2 karya Syaikh Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr -Hafidzahumallahu-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here