الْغَنِيُّ

Al-Ghoniy : Yang Maha Kaya

Nama Allah Al-Ghoniy maknanya adalah Yang Maha Kaya. Nama ini menunjukkan bahwasanya Allah adalah Yang Maha Kaya secara Dzat-Nya. Secara bahasa kaya artinya memiliki kecukupan dan tidak membutuhkan kepada selain dirinya. Adapun secara makna kaya artinya memiliki harta, kekayaan dan materi yang berlimpah, sehingga makna dari Allah Yang Maha Kaya artinya adalah Allah yang memiliki kekayaan yang sempurna sehingga Dia tidak membutuhkan sesuatu apapun terhadap apa yang telah Dia ciptakan.

Allah banyak menyebutkan Nama Al-Ghoniy di dalam Al-Qur’an, bahkan terkadang nama ini disandingkan dengan nama yang lain agar menunjukkan sifat kesempurnaan diatas kesempurnaan. Diantaranya Allah berfirman :

  وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat.”QS. Al-An’am: 133

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”QS. Yunus: 68

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

 “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”QS. Fathir: 15.

Al-Khottoby mengatakan Allah Yang Maha Kaya maknanya adalah Allah sangat tidak membutuhkan makhluknya dan tidak membutuhkan pertolongan dari makhluk-Nya sedikitpun. Maka Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, bahkan makhluklah yang membutuhkan Allah sebagaimana ayat tersebut diatas.

Pengaruh Nama Allah Al-Ghoniy dalam kehidupan kita adalah bahwasanya seorang mu’min harus meyakini bahwasanya Allah memiliki kekayaan yang mutlak dari segala sisi karena kesempurnaan Dzat dan sifat-sifat-Nya, maka tidak ada satu kekurangan pun pada diri Allah. Sedangkan manusia sebagai makhluq memiliki sifat faqir dan membutuhkan sesuatu selain dirinya untuk menopang kehidupannya. Maka kewajiban makhluq adalah bersandar dan bergantung hanya kepada penciptanya. Kewajiban bagi mereka adalah mentaati seluruh perintah maupun larangan-Nya agar ia bisa mendapatkan pertolongan dari penciptanya.

Kefaqiran yang dimiliki oleh makhluk terbagi menjadi dua jenis, yaitu kefaqiran yang bersifat lazim dan kefaqiran yang bersifat pilihan. Kefaqiran yang bersifat lazim maknanya adalah kefaqiran yang tidak ada pilihan bagi seorang hamba melainkan pasti ia membutuhkan kepada Robbnya, seperti misalnya Allah menciptakan manusia dari rahim ibunya kemudian ia dibesarkan oleh orang tuanya hingga ia dewasa dan bisa berpikir. Maka kefaqiran seperti ini bersifat lazim dan tidak ada satu manusia pun yang terlepas dari kefaqiran jenis ini, sehingga kefaqiran jenis ini tidak mendatangkan pujian ataupun celaan dan juga tidak terkait dengan dosa maupun pahala.

Adapun kefaqiran jenis kedua yaitu kefaqiran yang bersifat pilihan, yaitu setiap hamba akan diberi pilihan untuk merasa faqir di hadapan Allah ataukah merasa sombong di hadapan-Nya. Apabila ia merasa faqir di hadapan Allah maka ia akan senantiasa bergantung kepada-Nya dan memohon hanya kepada-Nya dan inilah inti dari Tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam hal peribadatan. Sedangkan apabila ia merasa sombong di hadapan Allah maka ia tidak akan mau tunduk dan beribadah kepada-Nya. Ia juga tidak akan mengagungkan serta mentaati perintah maupun larangan-Nya. Sehingga bagi orang yang mau merasa faqir di hadapan Robbnya maka ia akan mendapatkan pahala serta pujian dari Allah, dan orang yang tidak mau merasa faqir di hadapan-Nya, ia akan mendapatkan dosa dan celaan di sisi Allah. Allah berfirman :

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ

أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena Dia melihat dirinya serba cukup.QS. Al-‘Alaq: 6-7

Kefaqiran yang bersifat pilihan dan mendatangkan pahala ini tidak timbul dengan sendirinya pada diri seseorang, melainkan ada tahapan-tahapan untuk mencapai derajat faqir tersebut. Tahapan yang pertama adalah seorang hamba mengenal Robbnya. Ia berusaha mempelajari dan memahami nama-nama serta sifat-sifat keagungan yang dimiliki oleh Robbnya. Apabila seseorang telah mengenal Robbnya maka tentu ia akan mengagungkan Robbnya dan merasa bahwasanya segala keinginan dan harapannya hanya di tangan Allah. Kemudian tahapan kedua adalah ia mengenali hakikat dirinya, siapa dirinya, bagaimana hakikat kedudukannya di hadapan Allah dan dari apa ia diciptakan oleh Allah. Maka semakin dalam pengetahuan seseorang tentang hakikat siapa dirinya mengantarkan kepada ketundukan yang sempurna di hadapan Allah. Dan dengan inilah sempurna sifat kefaqiran seseorang dihadapan Allah.

Pengaruh lainnya dari Nama Allah Al-Ghoniy ini adalah bahwasanya kebaikan, kenikmatan serta rahmat yang yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya merupakan kebaikan murni dari Allah yang maha kaya. Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya, memberikannya kehidupan, rizki serta kecukupannya, Allah tidak mengharapkan balasan dari makhluknya tersebut. Maka Allah tidaklah menciptakan makhluknya karena ingin memperbanyak yang tadinya sedikit, atau mencari kemuliaan dari yang tadinya adalah kehinaan.Tidak juga Allah mengharapkan rizki, manfaat, atau dukungan dari makhluknya. Sebagaimana Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. QS. Adz-Dzariyat: 56-58

Maka ketika Allah Yang Maha Kaya memberi suatu kebaikan kepada makhluk-Nya, adalah murni merupakan kebaikan, kecintaan, serta rahmat dari-Nya. Pujian, sanjungan dan pengagungan makhluk-makhlukNya tidak akan menambah sedikitpun kekayaan Allah Yang Maha Kaya. Adapun makhluk maka sifat dasar yang dimilikinya adalah kefaqiran yang menghinakan dan merendahkan dirinya. Ia akan membutuhkan orang lain serta segala sesuatu di sekitarnya untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan atau inginkan. Maka ketika manusia berbuat baik kepada sesamanya, hakikatnya adalah ia sedang mencari kebaikan untuk dirinya sendiri. Tidak ada manusia yang murni berbuat baik tanpa pamrih, setidaknya untuk menyatakan bahwasanya dirinya adalah orang baik yang memberi kepada sesama.

Ditambah lagi kebutuhan makhluk kepada Robbnya merupakan kebutuhan yang sangat besar. Sedetikpun ia tidak terlepas dari kebutuhannya kepada Allah. Ia butuh kepada bimbingan-Nya, rizki-Nya, rahmat-Nya, kasih sayang-Nya, pahala dan ridha-Nya, ampunan dan permaafan-Nya, serta dimasukkannya kedalam surga dan dijauhkannya dari neraka. Maka seorang hamba Allah adalah yang faqir di hadapan-Nya, berharap hanya dari-Nya dan memohon hanya kepada-Nya.Sebagaimana Allah berfirman :

وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاءُ

dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang faqir (berkehendak kepada-Nya) QS. Muhammad: 38

Diringkas dari kitab An-Nahjul Asma fi Syarhi Asma Allah Al-Husna

Ditulis oleh seorang hamba yang membutuhkan ampunan Robbnya

Muhammad Abu Alif di Cianjur, 9 Des 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here