Kamis, Agustus 4, 2022
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirKEUTAMAAN DAN KEDUDUKAN KALIMAT TAKBIR

KEUTAMAAN DAN KEDUDUKAN KALIMAT TAKBIR

KEUTAMAAN DAN KEDUDUKAN KALIMAT TAKBIR

Kalimat takbir merupakan kalimat yang teramat istimewa. Sangat banyak dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam yang memotivasi kita untuk mengucapkan kalimat ini. Di antaranya:

وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Artinya: “Agungkanlah Allah (bertakbirlah) seagung-agungnya”. (QS. Al-Isra’ 17:111)

Bahkan hampir setiap ibadah selalu diiringi takbir. Setelah selesai berpuasa Ramadhan misalnya, kita diperintahkan Allah untuk bertakbir.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dengan begitu kalian dapat menyelesaikan hari-hari puasa kalian dengan sempurna. Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kalian bersyukur”. (QS. Al-Baqarah 2: 185)

Juga di dalam ibadah haji, serta di hari raya Idhul Ad-ha, kita disyariatkan untuk memperbanyak takbir. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak sampai kepada Allah. Yang sampai kepada-Nya hanyalah niat ikhlas kalian. Begitulah Allah tundukkan hewan kurban itu kepada kalian agar kalian selalu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj 22: 37)

Bukan hanya itu, di dalam ibadah amaliah yang paling mulia, yakni shalat, harus diawali dengan takbir, dan tidak boleh diganti dengan dzikir selainnya, walaupun semakna.

Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,

“Adalah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membuka shalat beliau dengan takbir dan mengawali bacaannya dengan Alhamdulillahi Rabbil Alamin”. (HR. Muslim.)

Bahkan hampir setiap gerakan dalam shalat ditandai dengan takbir. Tahukah Anda bahwa dalam sehari semalam, di shalat lima waktu saja kita telah bertakbir 94 kali? Itu belum ditambah takbir dalam shalat sunnah rawatib dan dzikir sesudah shalat fardhu. Seluruh takbir tersebut bila dikumpulkan ternyata berjumlah 320 kali! Padahal itu hanya dalam sehari semalam. Ini menunjukkan keagungan takbir.

Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kalimat takbir di dalam agama kita. Oleh karena itu tidak heran bila kalimat mulia ini kita ucapkan dalam sehari ratusan kali, bahkan tak terhitung.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata ketika menjelaskan keutamaan takbir dan kebesaran urusannya, “Oleh karena itu syiar shalat, adzan, hari-hari raya, dan tempat-tempat tinggi, adalah takbir. la adalah salah satu di antara kalimat-kalimat paling utama sesudah Al-Qur an, yaitu subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaahaillallah, wallahu akbar, sebagaimana hal itu tercantum dalam Ash.Shahih, dari Nabi . Tidak disebutkan pada satu pun di antara atsar atsar, ucapan Allah Akbar (Allah Maha Besar) diganti dengan ‘Allahu A’zham’ (Allah Maha Agung). Oleh karena itu, menurut jumhur ulama shalat tidak sah kecuali menggunakan lafazh takbir. Sekiranya seseorang mengucapkan ‘Allahu A’zham’ niscaya shalatnya tidaklah sah (Majmu Al fatawa :16/112-113)

Di antara dalil yang menunjukkan keistimewaan kalimat takbir, adalah hadits yang berisikan pensyariatan mengucapkan takbir di saat kita melewati jalan yang menanjak.

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bertutur,

“Adalah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan pasukannya apabila menanjak jalan; mereka mengucapkan takbir. Dan bila menurun; mereka bertasbih. Bacaan dalam gerakan shalat pun diatur seperti itu”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.

Para ulama menjelaskan hikmah di balik pengucapan kalimat takbir saat jalan menanjak dan kalimat tasbih saat jalan menurun. Kata mereka, kita bertakbir saat menanjak melewati jalan yang tinggi, sebab kondisi itu selaras dengan pengagungan Allah yang maha tinggi. Sebaliknya kita mengucapkan tasbih saat menuruni jalan yang rendah, karena hal itu selaras dengan pensucian Allah dari sifat-sifat yang rendah dan jelek.

Begitu pula dalam shalat kita. Dzikir yang kita ucapkan dalam gerakan-gerakan di dalamnya sesuai dengan hal di atas. Saat kita mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, juga saat bangkit dari sujud kita mengucapkan takbir. Karena gerakan-gerakan tersebut mengarah kepada sesuatu yang tinggi. Sebaliknya ketika kita sedang ruku’ dan sujud; merendahkan anggota tubuh kita, kita mengucapkan tasbih. Sebab kalimat ini mengandung pensucian Allah dari sifat-sifat buruk yang rendah.

Jadi, kalimat takbir bukanlah kalimat yang hanya diucapkan dengan lisan belaka, namun kalimat yang amat sarat dengan makna. Takbir yang sejati adalah takbir yang diucapkan seorang hamba seraya ia mengagungkan Allah Ta’ala dengan pengagungan lisan, hati dan perbuatan. Alias ia berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Penulis : Haidar Andika

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER