Kamis, Februari 9, 2023
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirDzikir Ketika Bersin dan Menguap

Dzikir Ketika Bersin dan Menguap

Dzikir ketika bersin dan menguap Antara bersin dan menguap

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Karenanya apabila salah seorang dari kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka kewajiban atas setiap muslim yang mendengarnya untuk men[tasymit]nya (mengucapkan yarhamukallah). Adapun menguap, maka dia tidaklah datang kecuali dari setan. Karenanya hendaklah menahan menguap semampunya. Jika dia sampai mengucapkan ‘haaah’, maka setan akan menertawakannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Memuji Allah ketika bersin

Hikmah dari memuji Allah ketika bersin adalah seorang yang bersin akan mendapatkan kenikmatan dan manfaat dari keluarnya banyak kuman yang apabila terus menerus berada dalam tubuh akan menjadi penyakit. Bersamaan dengan guncangan yang kuat ketika bersin tersebut, Allah masih memberikan kekuatan dan keutuhan kepada badannya tersebut. Maka segala puji hanya milik Allah atas seluruh karuniaNya ketika bersin tersebut.

Menahan ketika menguap

Menguap adalah sesuatu yang tidak dicintai oleh Allah karena berasal dari setan. Menguap juga dapat menyebabkan badan menjadi lelah dan malas. Oleh karena itu seorang muslim dianjurkan untuk menahan ketika menguap.

Diriwayatkan dari  Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التثاؤب من الشيطان فإذَا تثائب احدكم فليرده ما استطاع فان احدكم اذَا قال ها ضحك الشيطان

“Menguap adalah dari setan. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian menguap, tolaklah sekuat mungkin, karena ketika salah seorang dari kalian berkata ‘huah’ (pada saat menguap), setan akan menertawakannya.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat muslim

فإذا تثاءَب أحدُكم فليَكظِمْ ما استطاع

”Apabila salah seorang dari kalian menguap, tutuplah serapat mungkin.” (HR. Muslim).

Menutup mulut ketika menguap

Disunnahkan untuk menutup mulut dengan tangan, baju atau yang lainnya karena buruknya pemandangan ketika seseorang menguap. Dan membiarkan mulut terbuka ketika menguap merupakan jalan syaithan untuk masuk ke tubuh manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ، فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

”Apabila salah seorang dari kalian menguap, maka hendaknya menutup mulutnya dengan tangannya, karena syaithan bisa saja masuk”

Berdoa ketika bersin

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  beliau bersabda,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Ababila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syari’at Islam mengajarkan ketika seseorang bersin untuk berdoa dan memuji Allah. Bahkan orang yang mendengarkan pujian kepada Allah dari orang yang bersin, diharuskan mendoakan rahmat atasnya. Demikian pula orang yang bersin dan didoakan oleh orang lain disunnahkan untuk menjawab doanya. Sehingga jadilah kaum muslimin saling mendoakan satu sama lain dengan sebab bersin. Bahkan mendoakan orang yang memuji Allah ketika bersin merupakan hak seorang muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حق المسلم على المسلم ست : إذا لقيته فسلم عليه، وإذا دعاك فأجبه، وإذا استنصحك فانصح له، وإذا عطس فحمد الله فشمته، وإذا مرض فعده وإذا مات فاتبعه

Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika dia mengundangmu maka datanglah, jika dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat, jika dia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah maka doakanlah, jika dia sakit maka jenguklah, dan jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya (HR. Muslim).

Diriwayatkan bahwasanya doa bagi orang yang bersin hanyalah bagi orang memuji Allah ketika dia bersin. Sebagaimana diriwatkan dari sahabat Anas radhiallahu anhu,

عَطسَ عِنْدَ النبيِّ ﷺ رَجُلانِ ، فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الآخَرَ، فَقَالَ الَّذِي لَمْ يُشَمِّتْهُ: عَطسَ فُلانٌ فَشَمَّتهُ، وَعطستُ فَلَم تُشَمّتني؟! فَقَالَ: هَذَا حَمِدَ الله، وإنَّك لَمْ تَحْمَدِ الله

Suatu ketika ada dua orang yang sedang bersin di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau hanya mengucapkan doa yarhakumullah kepada salah seorang saja di antara mereka. Lalu orang yang tidak beliau doakan berkata kepadanya, Si fulan bersin, lalu engkau mendoakannya dan ketika saya yang bersin, engkau tidak mendoakan saya.’’ Lalu Rasulullah berkata kepadanya, ’’Dia mengucapkan hamdalah ketika bersin, sedangkan kamu tidak.’’ (Muttafaqun ‘alaih)

Diriwayatkan pula dari Abu Burdah, beliau menceritakan,

دَخَلْتُ علَى أَبِي مُوسَى وَهو في بَيْتِ بنْتِ الفَضْلِ بنِ عَبَّاسٍ، فَعَطَسْتُ فَلَمْ يُشَمِّتْنِي، وَعَطَسَتْ فَشَمَّتَهَا، فَرَجَعْتُ إلى أُمِّي فأخْبَرْتُهَا، فَلَمَّا جَاءَهَا قالَتْ: عَطَسَ عِنْدَكَ ابْنِي فَلَمْ تُشَمِّتْهُ، وَعَطَسَتْ فَشَمَّتَّهَا، فَقالَ: إنَّ ابْنَكِ عَطَسَ، فَلَمْ يَحْمَدِ اللَّهَ، فَلَمْ أُشَمِّتْهُ، وَعَطَسَتْ، فَحَمِدَتِ اللَّهَ فَشَمَّتُّهَا، سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يقولُ: إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللَّهَ، فَشَمِّتُوهُ، فإنْ لَمْ يَحْمَدِ اللَّهَ، فلا تُشَمِّتُوهُ.

“Aku menemui Abu Musa yang sedang berada di rumah anak perempuan al-Fadhl bin ‘Abbas. Aku pun bersin, namun beliau tidak mendoakan aku. Lalu anak perempuan al-Fadhl bersin, dan beliau mendoakannya. Aku kembali (pulang) ke ibuku, lalu memberitahukan peristiwa itu. Ketika ibuku mendatangi Abu Musa, ibuku berkata, “Anakku bersin di dekatmu namun Engkau tidak mendoakannya. Sedangkan ketika putri al-Fadhl bersin dan Engkau mendoakannya.”

Abu Musa berkata, “Sesungguhnya anak laki-lakimu bersin dan tidak memuji Allah sehingga aku tidak mendoakannya, sedangkan anak perempuan (al-Fadhl) bersin, lalu dia memuji Allah sehingga aku mendoakannya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ، فَشَمِّتُوهُ، فَإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ، فَلَا تُشَمِّتُوهُ

“Jika salah seorang di antara kalian bersin dan memuji Allah maka doakanlah dia. Namun, jika dia tidak memuji Allah maka jangan mendoakannya.” (HR. Muslim)

Mendoakan orang bersin sebanyak tiga kali

Disebutkan dalam hadits Salamah bin Al-Akwa’ radhiallahu ‘anhu,

أنَّهُ سَمِعَ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، وَعَطَسَ رَجُلٌ عِنْدَهُ، فَقالَ له: يَرْحَمُكَ اللَّهُ ثُمَّ عَطَسَ أُخْرَى، فَقالَ له رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: الرَّجُلُ مَزْكُومٌ

bahwasanya dia mendengar ada seorang yang bersin di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Yarhamukallāh.”

ثُمَّ عَطَسَ أُخْرَ

Kemudian orang ini bersin lagi.

Kemudian Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

اَلرَّجُلُ مَزْكُوْمٌ

“Si fulan ini sedang sakit flu.” (HR. Muslim)

Diriwatkan pula dari Abu Hurairah secara marfu’ dan mauquf, doakanlah saudaramu ketika bersin sebanyak tiga kali, apabila lebih dari itu maka dia sedang flu.

Menjaga suara dan menutup mulut ketika bersin

dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

Bahwasanya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup wajah dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya. (HR. Ahmad, al-Hakim dll)


Saling mendoakan ketika bersin

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud dan yang lainnya dengan sanad yang sahih melalui Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, Apabila seseorang diantara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan:

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

[Alhamdu lillaahi ‘ala kulli haal]

“Segala puji bagi Allah dalam semua keadaan.”

Dan hendaklah saudaranya atau temannya menjawab:

يَرْحَمُكَ اللّٰه

[Yarhamukallaahu] Semoga Allah merahmatimu

Dan ia pun membalasnya:

يَهْدِيْكُمُ اللّٰهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

[Yahdiikumullaahu wayushlihu baa lakum]

“Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.”

وروى مالك في الموطأ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رضي الله عنهما كَانَ إِذَا عَطَسَ فَقِيلَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ ، قَالَ : يَرْحَمُنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ ، وَيَغْفِرُ لَنَا وَلَكُمْ

Diriwayatkan dari Imam Malik di dalam kitab Muwaththa’, dari Nafi’, dari ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, yang menceritakan, “Apabila seseorang diantara kalian bersin, lalu diucapkan kepadanya:

يَرْحَمُكَ اللّٰه

[Yarhamukallaahu] Semoga Allah merahmatimu

Hendaklah ia mengucapkan:

يَرْحَمُنا الله وإياكم ويغفر لنا ولكم

[Yarhamunallaahu wa iyyaakum wa yaghfirullaahu lanaa walakum]

“Semoga Allah merahmati kami, dan kalian; dan semoga Allah mengampuni kami, juga kalian.”

Sebuah pelajaran dari salaf

Para salaf rahumahumullah mengingkari ketika ada orang yang membaca dzikir melebihi dari yang dicontohkan. Diriwayatkan dari Imam Tirmidzi dalam sunannya bahwasanya seseorang bersin dihadapan Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma kemudian ia membaca [alhamdulillah wassalamu ‘ala rasulillah] “Segala puji bagi Allah dan dan semoga keselamatan atas Rasulillah.” Maka Ibnu Umar mengatakan : “Kami juga mengucapkan [alhamdulillah] dan [assalamu ‘ala rasulillah] namun bukan seperti itu Rasul mengajarkan kami (membaca doa ketika bersin). Akan tetapi beliau mengajarkan untuk mengucapkan : [alhamdulillah ‘ala kulli hal] “Segala puji bagi Allah dalam semua keadaan.” (HR. Tirmidzi)

Riwayat ini menunjukkan antusias para salaf dalam berpegang teguh terhadap sunnah dan mencukupkan diri dengan dengan petunjuk mereka.


Sumber :

Fikih doa dan Dzikir Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin

rumaysho.com, muslimah.or.id, dorar.net, almanhaj.or.id

Cianjur, 14 Oktober 2021

Oleh : Muhammad Abu Alif

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER