Kamis, Februari 9, 2023
spot_img
BerandaPenjelasan Asmaul HusnaASY-SYAKIR ( YANG MAHA BERTERIMA KASIH )

ASY-SYAKIR ( YANG MAHA BERTERIMA KASIH )

ASY-SYAKIR ( YANG MAHA BERTERIMA KASIH )

DALIL PENETAPAN 

Allah telah menyebutkan nama Asy-Syakir di beberapa tempat di dalam Al-Qur’an diantaranya :

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha mengetahui. ( QS. An-Nisaa : 147 )

MAKNA

Asy-Syakir berarti Yang Maha Menyanjung orang-orang yang mentaati-Nya dan yang memuji dan membalas karena ketaatan kepada-Nya dan al-Qur’an penuh dengan pujian terhadap para nabi dan orang-orang yang shalih. ( The Miracle of Asmaul Husna : 285 )

Imam As-Sa’di mengatakan bahwa makna syukur adalah pengakuan hati terhadap nikmat-nikmat dari Allah, memujinya dengan ucapan dan menggunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang diridhoi oleh Allah. Dan kufur nikmat adalah kebalikannya. ( Taisiir Kariim Ar-Rahman Fi Tafsiir Kalam Al-Mannan: 422 )

Sedangkan Perbedaan antara syukur dan pujian, bahwa pujian lebih umum dari syukur, sebab kamu memuji seseorang atas kebaikan dan sifat-sifat mulianya, dan kamu tidak bersyukur kecuali atas kebaikannya. Jadi syukur itu hanya karena sebuah pemberian. 

DO’A IBADAH ​

Do’a ibadah yang berkaitan dengan nama Asy-Syakir diantaranya adalah : 

➢ Allah memerintahkan kepada para nabi-Nya dan juga kepada manusia agar mereka bersyukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka, baik nikmat dzohir seperti badan yang sehat, rizki yang banyak, tempat tinggal yang bagus dan nyaman maupun nikmat batin seperti menuntut ilmu syar’i, hidayah untuk bisa ikhlas dalam beribadah, hidayah untuk bertakwa kepada Allah ataupun kenikmatan-kenikmatan agama lainnya yang merupakan kenikmatan yang sebenarnya. 

Namun disaat yang sama Allah juga melarang mereka dari berbuat kufur, karena Allah tidak ridho kepada hamba-hamba-Nya yang kufur atas kenikmatan yang telah Allah berikan kepada mereka. Hal ini telah Allah sebutkan dalam firman-Nya :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS.al-Baqarah : 152)

​Dalam ayat yang lain Allah berfirman 

وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ……٧

“ ……dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az-Zumar : 7)

Imam As-Sa’di menyebutkan alasan kenapa Allah tidak ridho kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat kufur, beliau berkata : karena kesempurnaan kebaikan Allah kepada mereka, pengetahuan-Nya bahwa kufur akan menjadikan mereka celaka, kecelakaan yang tidak akan mendatangkan kebahagiaan setelahnya dan karena Allah yang telah menciptakan mereka dengan tujuan yang agung yaitu agar mereka hanya beribadah kepada-Nya. ( Taisiir Kariim Ar-Rahman Fi Tafsiir Kalam Al-Mannan: 719-720 )

➢ Orang yang banyak bersyukur kepada Allah, maka ia akan mendapatkan keridhoan Allah berupa rahmat dan kecintaan untuk berbuat baik. Allah menjanjikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya balasan. Sebagaimana Allah firmankan : 

وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali-Imran: 144)

​Begitu juga Allah akan menambah kenikmatan kepadanya jika dia bersyukur atas kenikmatan tersebut dan sebaliknya Allah akan memberikan adzab kepadanya jika dia kufur atas kenikmatan tersebut. Allah akan mengadzab orang yang kufur nikmat baik dengan cara menghilangkan kenikmatan tersebut didunia langsung secara dzatnya ataupun dengan cara menghilangkan keberkahan atas kenikmatan tersebut dan Allah akan mengadzabnya di akhirat dengan adzab yang pedih. Sebagaimana Allah firmankan : 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

​“Dan ingatlah juga tatkala Rabb kalian memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

➢ Bentuk syukur yang paling agung adalah mentauhidkan Allah, baik tauhid rububiyah, uluhiyah, maupun tauhid asma dan sifat-Nya, beribadah dan mentaati-Nya. Mensyukurinikmat Allah adalah wajib atas setiap manusia, dan setiap anggota tubuh memiliki hak bersyukur, yaitu dengan menggunakannya dalam ketaqwaan. Karena hakikat syukur kepada Allah adalah nampaknya pengaruh nikmat pada lisan berupa ucapan dan pengakuan, pada hati berupa cinta dan kesaksian, dan pada anggota badan berupa ketundukan dan ketaatan.

 ➢ Sebagai konsekuensi terhadap nama Allah Asy-syakir, maka wajib bagi seorang hamba untuk berterima kasih kepada orang yang telah memberinya sesuatu seraya mendo’akannya agar Allah membalas kebaikannya. Karena orang yang tidak berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya, maka dia tidak bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang telah diperolehnya. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“ Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

DO’A PERMOHONAN 

Diantara do’a permohonan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkaitan dengan nama Allah Asy-Syakir adalah sabda beliau kepada Mu’adz : 

Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu…Aku berwasiat kepada wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan setelah shalat-wajib- mengucapkan :

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ 

Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud: 1542, dan an-Nasa’I :1311. Dishahihkan oleh al-Albani).

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi wasohbihi wasallam.

Al-Bayaan Cianjur, 25 Rajab 1441 H / 20 Maret 2020

Penulis : Adep Baehaki, Lc 

Sumber : 

The Miracle Of Asmaul Husna Karya Muallifah

Fiqih Asmaul Husna Karya Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Taisiir Kariim Ar-Rahman Fi Tafsiir Kalam Al-Mannan karya Al- Allamah Syeikh Abdur-Rahman ibn Nashir As-Sa’di

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER