Senin, Juni 27, 2022
spot_img
BerandaFiqih Do'a dan DzikirSikap Pertengahan Para Ahli Al-Qur’an

Sikap Pertengahan Para Ahli Al-Qur’an

Sikap Pertengahan Para Ahli Al-Qur’an

Sudah kita lalui bersama, bahwa dzikir yang terbaik dan paling utama adalah al-Qur’an. Para pengemban al-Qur’an adalah keluarga Allah subhanahu wata’ala dan orang-orang khsusus bagi-Nya, sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaih wasallam. Tidak diragukan lagi bahwa selayaknya para pengemban al-Qur’an memilki sifat-sifat dan karakter yang mulia, yang jumlahnya sangat banyak. Akan tetapi sifat yang paling penting dan karakter yang harus lebih menonjol adalah sikap pertengahan dan seimbang. Yaitu dengan berkomitmen dengan apa yang datang dari al-Qur’an dan teguh dengannya tanpa ghuluw (berlebih-lebihan) dan Jafa’ (mengabaikan), tanpa ekstrim dan menyepelekan, dan tanpa menambah-nambah dan mengurangi. Allah ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”  (QS. Al-Baqarah/2: 143)

Ketika Allah menjadikan umat ini sebagai umat pertengahan, yakni terbaik dan adil. Allah mengkhsususkannya dengan syariat yang paling sempurna, manhaj yang paling lurus, dan madzhab yang paling jelas. Allah menjadikan kitab-Nya yang terang sebagia petunjuk kepada jalan lurus, mengajak kepada bimbingan yang lebih baik dan lebih bijak. Seperti firman Allah ta’ala

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS. Al-Isra/17: 9)

Allah tidak menurunkan al-Qur’an ini untuk menyengsarakan manusia, akan tetapi Allah menurunkannya untuk kebahagiaan yang tidak ada kesengsaraan sesudahnya, dan untuk memberi petunjuk yang tidak ada kesesatan sesudahnya. Seperti firman Allah ta’ala,

طه .مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى .إِلا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى. تَنْزِيلا مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا .الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى .

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha/20: 1-5)

Para ahli tafsir telah menyebutkan sebab turunnya ayat-ayat ini, bahwa ketika Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasul-Nya, beliau shallallahu alaihi wasallam dan sahabat-sahabatnya mengamalkan al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. Kemudian orang-orang musyrik berkata, “Al-Qur’an ini diturunkan kepada Muhammad hanya untuk membuatnya sengsara.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Thaha,  Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” Yakni, hal ini tidaklah seperti dugaan orang-orang yang sesat, akan tetapi siapa yang diberi ilmu oleh Allah melalui wahyu-Nya, dan pemahaman terhadap apa yang Dia turunkan, niscaya Dia menginginkan bagi orang itu kebaikan yang banyak. Qatadah rahimahullah berkata, “firman-Nya, ‘tidaklah Kami menurunkan al-Qur’an kepadamu untuk membuatmu sengsara,’ yakni; demi Allah, Dia tidak menjadikannya sebagai kesengsaraan, akan tetapi Dia menjadikannya sebagai rahmat, cahaya, dan petunjuk kepada surga.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/267)

Maka sudah seharusnya bagi pengemban al-Qur’an bahkan setiap muslim, untuk menegakan al-Qur’an, menghalalkan yang dihalalkannya, mengaharamkan yang diharamkannya, membenarkan berita-beritanya, tidak melanggarnya dengan sikap berlebih-lebihan, atau menguranginya dengan sikap menyepelekan, melainkan dia bersikap pertengahan.

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن من إجلالِ الله إكرامَ ذي الشيبَةِ المسلمِ، وحاملِ القُرآنِ غيرِ الغالي فيه والجافي عنه، وإكرَامَ ذي السُّلطَانِ المُقْسِطِ

“Sesungguhnya termasuk pengagungan terhadap Allah subhanahu wata’ala adalah memuliakan orang Muslim yang sudah beruban (tua), pengemban Al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak pula melalaikan, dan penguasa yang adil.”  (HR. Abu Dawud, no. 4843)

Beliau shallallahu alaihi wasallam menyifati ahli al-Qur’an yang haq, dan pengemban al-Qur’an yang sesungguhnya, yang berhak mendapatkan pengagungan dan penghormatan, yaitu sikap mereka adalah pertengahan antara berlebih-lebihan dan melalaikan. Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan derajat tinggi dan kedudukan mulia, didapatkan oleh mereka kerena komitmennya terhadap al-Qur’an, tanpa menyimpang darinya, baik berlebih-lebihan dan menambah, atau melalaikan dan mengurangi.

Abu Ubaid bin Qasim bin Sallam rahimahullah berkata ketika menjelaskan makna hadits Abu Musa di atas; “Orang yang berlebihan adalah orang yang keterlaluan dalam mengikutinya hingga dia menjadi orang yang suka mengakafirkan manusia, seperti khawarij. Sedangkan orang yang mengabaikannya adalah orang yang menyia-nyiakan batasan-batasannya dan meremehkannya.

Sesungguhnya setan sangat berambisi untuk memalingkan seorang Muslim dari komitmennya, dan menjauhkannya dari jalan yang lurus, baik dengan berlebih-lebihan atau mengabaikan. Musuh Allah itu tidak akan peduli di sisi mana dia akan berhasil.

Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah Allah memerintahkan suatu perkara melainkan setan memiliki dua godaan padanya; baik mengajak untuk melalaikan dan mengurangi, atau mengajak untuk melampaui batasan dan berlebih-lebihan, dan ia tidak peduli di mana antara keduanya akan berhasil.”

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Ighatsatul Lahafan min Masha’id asy-Syaithan, “Di anatara tipu daya setan –semoga Allah melindungi kita darinya- bahwa ia mengintai keadaan jiwa seseorang, sampai ia tahu kekutan mana yang lebih dominan pada jiwa itu; apakah kekuatan maju dan keberanian, atau kekuatan untuk menahan, melemahkan, memperkecil. Jika dia melihat yang dominan pada jiwa tersebut sifat kerendahan dan mundur, maka ia akan mengendurkan dan melemahkan semangat serta kehendaknya dari kewajiban yang diperintahkan, merasa berat melaksanakannya, dan merasa ringan ketika meninggalkannya, sampai dia meninggalkan seluruhnya atau mengurangi dari yang semestinya. Adapun jika setan melihat yang dominan adalah kekutan untuk maju dan semangat yang tinggi, maka setan akan menggambarkan perintah-perintah itu hanya sedikit, menimbulkan anggapan bahwa itu belum cukup baginya, dan dia perlu menambahnya lagi. Maka jadilah orang pertama meremehkan dan yang kedua berlebih-lebihan. Sungguh kebanyakan manusia sudah terjebak –kecuali sedikit saja- pada kedua jurang tersebut, jurang pengabaian dan jurang melampaui dan melanggar (batas). Sedikit sekali diantara mereka yang teguh di jalan yang berjalan di atasnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. (Ighatsatul Lahafan, 1/136)

Disebutkan melalui jalur yang shahih dalam hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda,

القَصْدَ القَصْدَ تَبْلُغُوْا

“Berlaku sedanglah.. berlaku sedanglah… niscaya kamu akan sampai.” (HR. Al-Bukhari, no. 6463)

Yakni, hendaklah kamu berlaku sedang dalam segala urusan, baik perkataan maupun perbuatan. Berlaku sedang adalah berada ditengah diantara dua tepi. Dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi waallam, bahwa beliau bersabda,

عَلَيْكُمْ هَدْيًا قَاصِدًا، فَإِنَّهُ مَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ يَغْلِبْهُ

“Hedaklah kamu Berpegang pada petunjuk yang sedang, karena siapa yang memperberat agama, niscaya dia akan dikalahkannya.” (Al-Musnad, 5/350)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “Berlaku sedang dalam Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” (diriwayatkan al-Lalika’i dalam Syarh al-I’tiqad, 1/88)

Sumber: Buku Fiqih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr –hafizhahullah-

Oleh: Ade Abdurrahman

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

PALING POPULER