asd
Home Fiqih Do'a dan Dzikir PERBEDAAN ANTARA PENYIMAKAN YANG DISYARIATKAN DAN PENYIMAKAN YANG DIADA-ADAKAN

PERBEDAAN ANTARA PENYIMAKAN YANG DISYARIATKAN DAN PENYIMAKAN YANG DIADA-ADAKAN

0

PERBEDAAN ANTARA PENYIMAKAN YANG DISYARIATKAN DAN PENYIMAKAN YANG DIADA-ADAKAN

Pada pembahasan yang lalu sudah dipaparkan tentang apa-apa yang diada-adakan oleh sebagian manusia dalam dzikir dan doa berupa penyimakan-penyimakan yang diada-adakan. Beribadah kepada Allah dengan menjadikan kata-kata puitis dan syair-syair sebagai wirid bagi mereka. Maka hal itu telah mengorbankan mereka dengan sehabat-hebatnya, merusak jalan mereka, dan menghalangi mereka dari dzikir yang benar dan doa yang selamat, sebagaimana disebutkan dalam petunjuk penghulu para nabi dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad Shallalahu Alaihi Wasalam.

Untuk itu, wajib bagi setiap muslim membedakan antara penyimakan bermanfaat dalam agama serta tertuang dalam syariat pencipta alam semesta, dengan penyimakan yang diada-adakan dimana ia dibuat serta diciptakan sebagian manusia sesuai hawa nafsu mereka.

Adapun penyimakan yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya, dan generasi awal umat ini dari kalangan sahabat dan tabi’in berkumpul untuknya, demi memperbaiki hati mereka dan mensucikan jiwa mereka, maka ia adalah penyimakan ayat-ayat Allah Ta’ala, dan ia adalah penyimakan para nabi, orang-orang beriman, serta ahli ilmu.

Allah Ta’ala berfirman:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka tunduk dengan bersujud dan menangis. (Qs: Maryam: 58.)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(Qs: Al anfal: 2.)

Firman yang lain,

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud,

وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا

dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”.

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (Qs: Al Isra: 107-109.)

Inilah penyimakan yang disyariatkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, dan disiapkan untuk mereka atasnya pahala yang sangat banyak, serta kebaikan yang melimpah didunia maupun diakhirat. Diatas penyimakan ini dahulu para sahabat Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasalam berkumpul. Apabila mereka berkumpul, niscaya mereka memerintahkan salah seorang diantara mereka untuk membaca, sedangkan yang lain mendengar dengan seksama.

Adapun yang kedua, penyimakan siulan dan tepukan, yaitu tepukan dengan tangan dan siulan dengan mulut, dan yang sepertinya, maka inilah penyimakan orang-orang musyrik, yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (Qs: Al Anfal: 35.)

Allah mengabarkan bahwa mereka menjadikan tepuk tangan dan siulan mulut sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dan ritual agama. Sementara Nabi Shallalahu Alaihi Wasalam dan para sahabatnya tidak pernah berkumpul untuk penyimakan seperti ini  dan tidak pula menghadirinya. Tidak ada pada tiga generasi utama dari ahli agama, kebaikan, dan ibadah, yang berkumpul untuk siulan dan tepuk tangan, begitu juga tidak dengan rebana, telapak tangan, atau potongan kayu. Bahkan hal ini diada-adakan setelah generasi itu di akhir tahun 2 H. ketika para imam melihatnya maka. Mereka mengingkarinya.

Diringkas dari buku Fiqih Do’a dan Dzikir karya Syeikh Abdurrazzaq Al-Badr.

Cianjur, Jum’at 24 Juli 2020, ditemani senja dan secangkir kopi.

Oleh: Fitra Aryasandi S.Ag

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version