WAKTU-WAKTU MUSTAJAB

Ketika Allah Azza wa Jalla mensyaria’atkan dan menganjurkan berdoa, serta berjanji akan mengabulkan setiap permohonan hamba-Nya, maka Allah Azza wa Jalla pun menyiapkan waktu-waktu dan tempat-tempat diijabahnya doa. Sejauh mana seorang hamba bisa memanfaatkan waktu dan tempat tersebut, sebanyak itulah permohonan yang akan dikabulkan. Berikut ini diantara wakut-waktu diijabahnya doa-doa adalah:

Pertama, waktu sahur dan di sepertiga malam terakhir. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ

dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS. Ali Imron: 17)


كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له

Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari dan Muslim)


Ayat dan hadist diatas menunjukkan keutamaan waktu sepertiga malam terakhir ini di sisi Allah Azza wa Jalla. Waktu ini merupakan waktu mustajab dan waktu yang terbaik untuk seorang hamba memohon ampunan dan berdoa memohon kebaikan-kebaikan untuk dirinya.

Kedua, suatu waktu di hari Jum’at. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan tentang hari Jum’at, lantas beliau bersabda,

« فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ » وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Di hari Jum’at terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu do’a kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta.” Dan beliau berisyarat dengan tangannya akan sebentarnya waktu tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ahlul ilmi berikhtilaf hingga mencapai 40 pendapat dalam masalah penentuan kapan waktu yang mustajab di hari jum’at tersebut. Namun pendapat yang kuat dan paling dekat dengan dalil ada dua pendapat.

Pertama, antara duduknya imam di mimbar hingga selesai shalat. Diriwayatkan dari Abu Burdah bin Abi Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Abdullah bin  Umar bertanya padaku, ‘Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyebut suatu hadits dari Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallammengenai waktu mustajabnya do’a di hari Jum’at?” Abu Burdah menjawab, “Iya betul, aku pernah mendengar dari ayahku (Abu Musa), ia berkata bahwa Rasul ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

هِىَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ

Waktu tersebut adalah antara imam duduk ketika khutbah hingga imam menunaikan shalat Jum’at.” (HR. Muslim)


Kedua, bakda ashar sampai tenggelamnya matahari. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah ‘Ashar.” (HR. Abu Daud)

Ketiga, Bulan Ramadhan yang penuh berkah, khususnya di sepuluh malam terakhir. Diantara sepuluh malam tersebut ada malam kemuliaan (lailatul qodar). Nabi mengajarkan sebuah doa kepada Aisyah untuk dibaca di malam tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti aku ucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah “Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Keempat, Hari Arafah, karena sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi)

Kelima, waktu antara adzan dan iqamah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)

Keenam, do’a selesai shalat lima waktu, yang dimaksud adalah setelah salam atau di akhir tahiyat sebelum salam. Dalil yang menunjukkan boleh berdo’a di akhir shalat setelah salam adalah hadits berikut,

جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقال : أيُّ الصلاة أفضل ؟ قال : (( جوفُ الليل الأوسط )) ، قال : أيُّ الدُّعاء أسمع ؟ قال: (( دُبر المكتوبات ))

“Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam lalu bertanya, “Shalat apa yang paling afdhal?” “Shalat di tengah malam”, jawab Nabi ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam. Lalu ditanya kembali, “Doa apa yang paling didengar?” “Doa di akhir shalat wajib.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Jami’ ‘Ulum wa Al-Hikam)


Nabi ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam pernah berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal, agar tidak meninggalkan mengucapkan sebuah doa di akhir shalat.

وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، أَخَذَ بِيَدِهِ ، وَقَالَ :(( يَا مُعَاذُ ، وَاللهِ إنِّي لَأُحِبُّكَ )) فَقَالَ : (( أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ .

Dari Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallammemegang tangannya dan beliau berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat, “Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu.” (HR. Abu Daud)

Sumber :

Fikih doa dan Dzikir Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin

muslim.or.id

rumaysho.com

Cianjur, 9 September 2020

Oleh : Muhammad Abu Alif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here