Turunnya Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Tidak diragukan lagi bahwa diantara nikmat Allah paling agung secara mutlak adalah nikmat turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya. Sehinga Allah memuji diri-Nya karena karena telah menurunkan satu kitab sebagai peringatan atas seluruh alam. Allah ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hambanya, agar menjadi peringatan bagi semesta alam.” (QS. Al-furqan: 1)

Sesungguhnya bulan Ramadhan memiliki kekhususan dari bulan-bulan yang lain yaitu karena di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al-Qur’an petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya kitab-kitab Allah Subhanahu wata’ala kepada para para Nabi. Dalam Al-Musnad karya Imam Ahmad dan Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani, dari hadits Watsilah bi Al-Asyqa’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

“Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal malam Ramadhan, Taurat diturunkan setelah  enam hari berlalu dari bulan ramadhan, injil diturunkan setelah tiga belas hari berlalu dari bulan Ramadhan, dan Allah menurunkan Al-Qur’an pada dua puluh empat hari berlalu dari bulan ramadhan.” (Al-Musnad, 4/107, Al-Mu’jam Al-Kabir Karya Ath-Thabrani, 22/185, dan dinyatakan shahih oleh Al-Allamah Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihain, No. 1575)

Jika hadits di atas Shahih, maka ia menunjukan bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya kitab-kitab Allah Ta’ala kepada para Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hanya saja kitab-kitab itu diturunkan kepada Nabi yang menerimanya dengan cara sekaligus. Adapun Al-Qur’an yang mulia, keutamaannya adalah ia diturunkan sekaligus dari Baitul Izzah ke langit dunia, dan itu terjadi pada malam al-Qadar di bulan Ramadhan penuh berkah. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ

“Sungguh Kami telah menurunkannya pada malam penuh berkah.” (QS. Ad-Dukhan: 3)

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sungguh Kami telah menurunkannya pada malam al-Qadr.” (QS. Al-Qadar: 1)

Ayat ini menunjukan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada satu malam yang penuh berkah yaitu malam Al-Qadar. Ia merupakan salah satu malam dibulan Ramadhan yang penuh berkah, kemudian setelah itu turun secara terpisah-pisah saling beruntun satu sama lain.

Al-Hakim meriwayatkan dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas dia berkata, ‘Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia. Lalu Allah Ta’ala menurunkan kepada Rasul-Nya berangsur-angsur.” (Al-Mustadrak, 2/222)

Allah ta’ala berfirman:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا

“Dan Al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” ( QS. Al-Isra’: 106)

Terdapat dalil yang sangat kuat tentang disukainya  mempelajari Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, begitu pula membacanya, menghafalnya. Imam Bukhari dan Muslim Meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata:

 “Nabi Shallallahu ‘alaihiwasallam adalah manusia paling pemurah, dan beliau lebih pemurah pada bulan Ramadhan ketika didatangi Jibril, lalu di ajarkan Al-Qur’an, dan Jibril menjumpainya setiap malam pada bulan Ramadhan lalu diajarkannya Al-Qur’an. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika dijumpai Jibril lebih pemurah dalam kebaikan melibihi angin yang berhembus.” (Shahih Al-Bukhari, no. 1902, dan Shahih Muslim, no. 2308)

Beliau Shallallahu ‘alihi wasallam biasa memperpanjang bacaan pada shalat malam di bulan ramadhan melebihi waktu-waktu lainnya. Ini adalah perkara yang disyariatkan bagi siapa yang mau menambah dan memperbanyak bacaan. Beliau juga biasa pula shalat sendirian dan memperpanjang bacaan sekehendak hatinya. Demikian pula mereka yang mengimami suatu jama’ah lalu mereka ridha untuk memperpanjang bacaan. Adapun selain itu maka yang disyariatkan adalah diringankan. Imam Ahmad berkata kepada sebagian shabatnya yang menjadi imam shalat di bulan Ramadhan “mereka itu adalah orang-orang lemah bacalah lima, enam, atau tujuh.” Sahabatnya berkata, “Aku pun membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an pada malam ke dua puluh tujuh.” (Atsar in disebutkan Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hal. 180)

Diringkas dari Buku Fiqih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr –hafizhahullah

Penulis: Ade Abdurrahman  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here