Home Fiqih Do'a dan Dzikir SYARAT-SYARAT LAA ILAAHA ILLALAH

SYARAT-SYARAT LAA ILAAHA ILLALAH

0

SYARAT-SYARAT LAA ILAAHA ILLALAH

Setiap muslim mengetahui bahwa setiap ketaatan yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidaklah diterima kecuali jika didatangkan syarat-syaratnya. Shalat tidak diterima kecuali dengan syarat-syarat yang telah diketahui. Haji tidak diterima kecuali jika dipenuhi syarat-syaratnya. Demikian pula semua ibadah sama seperti itu, tidaklah diterima kecuali dengan syarat-syarat yang telah diketahui dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Begitu pula perkara pada ‘laa ilaaha illallah’, ia tidak diterima kecuali jika si hamba telah melaksanakan syarat-syaratnya yang dapat diketahui dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.

Berdasarkan penelitian para ahli ilmu terhadap nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah, maka menjadi jelas bahwa ‘laa ilaaha illallah’ tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi tujuh syarat, yaitu:

Syarat pertama, Ilmu tentang makna yang dimaksudkan darinya baik penafian maupun penetapan yang meniadakan kebodohan. Hendaklah orang yang mengucapkannya mengetahui bahwa kalimat ini menafikan semua jenis peribadatan dari segala sesuatu selain Allah, lalu menetapkan hal itu untuk Allah semata, seperti dalam firman Allah

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”.(QS. Al-Fatihah: 5)

Yakni kami menyembah-Mu dan tidak menyembah selain-Mu, dan kami memohon pertolongan kepada-Mu dan tidak mohon pertolongan kepada selain Engkau. Allah berfirman:

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ

“Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah”. (QS. Muhammad: 19)

Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari hadits Utsman bin Affan dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa meningggal sedangkan dia mengetahui bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, niscaya dia masuk surga.” (HR. Muslim)

Syarat kedua, keyakinan yang menafikan kebimbangan dan keraguan. Yakni, hendaknya orang mengucapkannya yakin tentangnya dengan keyakinan yang kuat, tak ada kebimbangan dan keraguan padanya. Yakin adalah kecukupan ilmu dan kesempurnaannya. Allah berfirman tentang sifat-sifat orang-orang Mukmin

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin (yang sebenarnya) hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar”. (QS. Al-Hujurat: 15)

Syarat ketiga, keikhlasan yang menafikan syirik dan riya’. Hal ini direalisasikan dengan memurnikan amal dan membersihkan amalan dari semua kotoran yang nampak maupun tersembunyi. Ini terjadi dengan mengikhlaskan niat dalam semua ibadah kepada Allah semata. Allah berfirman:

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗ

“Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik)”. (QS. Az-Zumar: 3)

Syarat keempat, kejujuran yang menafikan kedustaan. Yaitu, hendaklah seorang hamba mengucapkan kalimat ini dengan jujur dari hatinya. Adapun shidiq (jujur) adalah terjadi kesesuaian antara hati dan lisan. Oleh karena itu Allah berfirman dalam rangka mengecam orang-orang munafik:

اِذَا جَاۤءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَالُوْا نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِ ۘوَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗ ۗوَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَكٰذِبُوْنَۚ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Nabi Muhammad), mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allah.” Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Allah pun bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar para pendusta”. (QS. Al-Munafiqun: 1)

Allah mensifati mereka sebagai pendusta karena apa yang diucapkan lisan mereka tidak ada ada dalam hati mereka.

Syarat kelima, kecintaan yang menafikan kebencian. Yaitu, hendaknya orang mengucapkannya mencintai Allah dan Rasul-Nya serta agama Islam maupun kaum muslimin yang menegakan perintah-perintah Allah serta berhenti pada batasan-batasannya. Membenci orang yang menyelisihi ‘laa ilaaha illallah’ serta melakukan perkara-perkara yang membatalkannya berupa syirik dan kufur. Di antara perkara yang menunjukan persyaratan kecintaan dalam iman adalah firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙ

“Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah: 165)

Syarat keenam, penerimaan yang menafikan penolakan. Jadi, sudah menjadi keharusan untuk menerima kalimat ini dengan penerimaan sebenar-benarnya di hati dan lisan. Allah telah mengisahkan kepada kita dalam Al-Qur’an tentang berita-berita orang-orang terdahulu yang telah diselamatkan karena menerima ‘laa ilaaha illallah’. Begitu pula siksaan dan kebinasaan bagi yang menolaknya dan tidak menerimanya. Allah berfirman:

ثُمَّ نُنَجِّيْ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كَذٰلِكَ ۚحَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Kemudian, Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman. Demikianlah menjadi ketentuan Kami untuk menyelamatkan orang-orang mukmin”. (QS. Yunus: 103)

Syarat ketujuh, ketundukan yang menafikan sikap meninggalkan. Menjadi kemestian bagi yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’, patuh kepada syariat Allah, tunduk kepada hukum-Nya, dan menyerahkan wajahnya kepada Allah, karena dengan demikian dia dianggap berpegang kepada ‘laa ilaaha illallah.’ Oleh karena itu, Allah berfirman:

وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗٓ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ

“Siapa yang berserah diri kepada Allah dan dia seorang muhsin, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada buhul (tali) yang kukuh. (QS. Lukman: 22)

Yakni, sungguh dia telah berpegang kepada ‘laa ilaaha illallah.’ Allah mempersyaratkan kepatuhan terhadap syariat Allah. Itu terjadi dengan cara menyerahkan wajah untuk-Nya. Inilah syarat-syarat ‘laa ilaaha illallah,’ dan maksudnya bukan sekedar mengumpulkan lafadz-lafadznya dan menghafalnya semata, tetapi perkara yang dituntut adalah berilmu tentangnya dan mengamalkannya sekaligus, agar dengan hal itu seseorang menjadi ahli ‘laa ilaaha illallah’ yang sejati, dan menjadi ahli kalimat tauhid yang sejati pula. 

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Muhammad waalihi wasohbihi ajma’in.

Al-Bayaan Cianjur, Selasa 17 Agustus 2021/ 08 Muharram 1443 H

Penulis: Adep Baehaki

Sumber : Diringkas dari buku Fikih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazaq Bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr -Hafidzahumallahu-

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version