ILMU TENTANG NAMA-NAMA ALLAH DAN SIFAT-SIFAT-NYA SERTA MANHAJ AHLUSSUNNAH DALAM HAL ITU

Sesungguhnya di antara maqam (kedudukan) tinggi dalam agama, dan tempat teratas lagi agung, adalah ilmu tentang kesempurnaan Rabb yang mulia, serta apa yang wajib untuknya dari sifat-sifat agung dan nama-nama-Nya yang paling indah lagi mulia, seperti disebutkan dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, dan apa yang Dia gunakan untuk memuji diri-Nya, dan digunakan oleh hamba dan rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memuji-Nya. Bahkan, sungguh ilmu tentang ini dan keimanan (kepadanya) adalah pokok di antara pokok-pokok agama, rukun di antara rukun-rukun tauhid, serta asas di antara asas-asas I’tiqad (keyakinan).

Oleh karena itu, Allah memotivasi hamba-hamba-Nya, mendorong mereka, dan membangkitkan keinginan mereka, pada sejumlah tempat dalam Al-Qur’an yang mulia agar mengetahui nama-nama Rabb dan sifat-sifat-Nya, mengetahui dengan pengetahuan yang  shahih lagi selamat, tanpa menyelewengkannya dari yang seharusnya, atau memalingkannya dari maksudnya, baik dengan melakukan perubahan, pengabaian, menjelaskan hakikatnya, menggambarkan atau selain itu. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Dan bagi Allah nama-nama yang paling indah, berdo’alah dengannya, dan tinggalkanlah mereka yang menyimpang (dari kebenaran) dalam hal nama-nama-Nya, mereka akan dibalas atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)

Dan firman-Nya yang lain:

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ

 “Katakanlah berdo’alah kepada Allah, atau berdo’alah kepada ar-Rahman, mana saja yang kamu berdo’a padanya, sungguh bagi-Nya nama-nama yang paling indah.” (QS. Al-Israa’ : 110)

Sungguh ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna dengannya, benar-benar menunjukan dengan sangat jelas, tentang keagungan urusan ilmu mengenai nama-nama Allah yang paling indah, dan sifat-sifat-Nya yang agung, sesuai yang disebutkan dalam nash-nash , serta di atas tuntutan yang tercantum dalam dalil-dalil. Dalam hal itu tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan hadits. Hal itu karena nama-nama Rabb dan sifat-sifat-Nya adalah tauqifiyah (berdasarkan wahyu), tidak ada ruang untuk mengetahuinya dan mengenalnya, kecuali melalui apa yang disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Seperti dikatakan Al-Imam Ahmad, “Allah tidak disifati kecuali dengan sifat yang Dia sifatkan untuk dirinya atau apa yang disifatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk-Nya. Tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan hadits. (Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 5/26)

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Tak ada dalam keyakinan seluruhnya tentang sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya, kecuali apa yang disebutkan secara tekstual dalam kitab Allah, serta apa yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, atau disepakati atasnya oleh umat ini. Apa-apa yang datang dalam khabar ahad (berita perorangan) mengenai hal itu seluruhnya atau sepertinya, maka diterima untuknya, dan tidak didiskusikan tentangnya.” (Jaami’ Bayaan Al-Ilmi wa Fadhlihi, 2/943)

Mensifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan bagi diri-Nya dan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dimasukan sebagai pokok keimanan yang kokoh, termasuk di antara asas-asasnya yang agung, dimana tak ada iman tanpanya. Barang siapa mengingkari sesuatu dari sifat-sifat Allah, menafikannya, atau menyimpang darinya, maka dia bukan seorang Mukmin. Demikian pula orang yang mengabaikannya, atau menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan setinggi-tingginya.

Atas dasar ini, madzhab Ahlussunnah Waljama’ah ditegakkan dalam permasalahan ini  atas dua pokok agung dan asas yang kokoh. Keduanya adalah; menetapkan tanpa mencontohkan dan mensucikan tanpa mengabaikan. Mereka tidak mencontohkan sifat-sifat Allah dengan sifat ciptaan-Nya, sebagaimana mereka tidak mencontohkan dzat Allah dengan dzat-dzat mereka. Dari sisi lain, mereka tidak menafikan dari Allah sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan ciri-ciri keagungan-Nya yang tercantum dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya. Bahkan mereka beriman bahwa Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Wajib bagi setiap muslim dalam permasalahan yang agung ini untuk berhenti pada batas nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa disebutkan pada keduanya. Tidak mengubah kalam Allah dari tempat-tempatnya, tidak mengingkari nama-nama dan ayat-ayat-Nya, tidak menggambarkan sifat-sifat-Nya, tidak mencontohkan sesuatu dengan sesuatu dari sifat-sifat ciptaan-Nya, karena Dia tidak ada nama serupa dengan-Nya, tidak ada padanan, dan tidak ada tandingan. Tidak boleh dikiaskan kepada ciptaan-Nya. Dia lebih mengetahui tentang diri-Nya daripada selain-Nya, lebih benar perkataan dan lebih bagus pembicaraan tentang ciptaan-Nya. Demikian para Rasul-Nya yang mengabarkan tentang-Nya melalui sifat-sifat tersebut, semuanya benar dan dibenarkan, berada dengan mereka yang mengatakan terhadap Allah apa yang mereka tidak ketahui.

Oleh karena itu, sesungguhnya Ahlussunnah Waljama’ah yang mengikuti Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa dan selain mereka di antara Rasul-Rasul Allah, mereka menetapkan apa yang ditetapkan Rasul-rasul Allah terhadap Rabb mereka, berupa sifat-sifat kesempurnaan dan ciri-ciri keagungan, seperti Allah berbicara dengan hamba-Nya, kecintaan-Nya kepada mereka, rahmat-Nya terhadap mereka, ketinggian-Nya atas mereka, bersemayam-Nya di atas ‘Arsy dan semisalnya, di antara apa-apa yang yang disebutkan dari ciri-ciri Rabb yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung. Mereka beriman kepada apa yang dikatakan Allah dalam kitab-Nya, dan apa-apa yang shahih dari nabi-Nya lalu mereka memberlakukannya sebagaimana adanya tanpa berusaha mengetahui hakikatnya, atau meyakini keserupaan maupun permisalan, atau penakwilan yang menghantarkan kepada pengabaian sifat-sifat Rabb manusia. Bahkan cukup bagi mereka sunnah Muhammad dan jalan yang diridhai. Mereka tidak melampauinya kepada kesesatan-kesesatan bid’ah atau hawa nafsu yang hina. Dengan sebab itu mereka meraih tingkat tertinggi, tempat-tempat teratas, baik di dunia maupun di akhirat. (Lihat Al-Aqidah Al-Hafidz Taqiyuddin Abdul Ghaniy Al-Maqdisi, hal.39).

Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘ala Muhammad waalihi wasohbihi ajma’in.

Al-Bayaan Cianjur, Sabtu 12 September 2020/ 24 Muharram 1442 H

Penulis: Adep Baehaki

Sumber : Diringkas dari buku Fikih Do’a dan Dzikir karya Syaikh Abdurrazaq Bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr -Hafidzahumallahu-   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here