Dzikir Yang Paling Utama Adalah Al-Qur’an Yang Mulia

Sesungguhya sebaik-baik perkara yang sudah sepantasnya bagi hamba untuk dijadikan sebagai dzikir kepada Allah Ta’ala adalah kalam-Nya, yang merupakan sebaik-baik perkataan, paling bagus, paling benar, dan paling bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan tentang kemulian Al-Qur’an dan keutamaannya:

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al-Furqan: 33)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat perhatian yang besar tentang kemulian Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana malaikat datang kepadanya membawa Al-Qur’an, baik pagi maupun petang, saat safar maupun mukim, setiap waktu datang malaikat membawa Al-Qur’an kepadanya. Bukan seperti proses turunnya kitab-kitab sebelumnya. Kedudukan ini lebih tinggi dibandingkan dengan saudara-saudaranya dari kalangan para Nabi, secara keseluruhan. Al-Qur’an adalah kitab paling mulia yang diturunkan Allah. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi Yang paling agung yang diutus Allah ta’ala.

Sungguh kedudukan Al-Qur’an dan keutamaannya sesuai kadar yang disifatkan kepadanya dan keutamaannya. Al-Qur’an adalah kalam dan sifat-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala tidak ada yang serupa dan mirip dengan-Nya dalam hal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka tidak ada pula yang serupa dan mirip dengan-Nya dalam hal kalam-Nya. Allah memiliki kesempurnaan yang mutlak pada dzat, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatu yang menyerupainya diantara ciptaan-Nya. Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada yang serupa dengannya sesuatu pun, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. (Asy-Syura: 11).

Perbedaan antara kalam Allah dan kalam makhluk seperti perbedaan antara pencipta dengan ciptaan.

Diantara hadits yang menerangkan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an, adalah: hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ, وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ؛ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti utrujjah, rasanya manis dan aromanya wangi. Perumpaman orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti tamrah (kurma), rasanya manis namun tidak ada aromanya. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti raihanah, aromanya wangi namun rasanya pahit. Perumpamaan munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti hanzalah, rasanya pahit dan tidak ada aromanya.” (Shahih Al-Bukhari, No. 5020, dan Shahih Muslim, No. 797

Hadits Ibnu Umar radhiallallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alihi wasallam, Beliau bersabda:

إِنَّمَا أَجَلُكُمْ فِي أَجَلِ مَنْ خَلاَ مِنَ الأُمَمِ كمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ، وَإِنَّمَا مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَرَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالاً فَقَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِي إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ ، فقَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ فَعَمِلَتِ النَّصَارَى ثمّ أنْتُمُ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ مِنْ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ عَلَى قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ، فَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلاً وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ اللَّهُ هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ شَيْئًا قَالُوا لاَ‏.‏ قَالَ فَإِنَّهُ فَضْلِي أُوِتيهِ مَنْ شِئْتُ

“Hanya saja batas waktu bagi kamu dibandingkan batas waktu mereka yang telah terdahulu di antara uma-umat, sama seperti antara ashar dan terbenamnya matahari. Perumpamaan kamu dengan orang-orang Yahudi dan Nashara sama seperti seseorang mengupah para pekerja. Orang itu berkata, ‘Siapa mau bekerja untukku hingga tengah hari dan masing-masing mendapatkan satu qirath?’ maka orang-orang Yahudi mengerjakannya. Lalu orang itu berkata, ‘siapa mau bekerja untukku dari tengah hari hingga ashar?’ maka orang-orang nashara menngerjakannya. Kemudian kamu bekerja dari ashar hingga maghrib dengan upah masing-masing dua qirath. Mereka berkata, ‘kami lebih banyak pekerjaannya namun lebih sedikit pemberiannnya. ‘ orang itu berkata. ‘Apakah aku menzhalimi kamu dari hakmu?’ merka berkata, ‘Tidak’ dia berkata, itulah anugrahku yang aku berikan kepada  siapa yang aku kehendaki.’” (Shahih Al-Bukhari, No. 5021).

Keutamaan umat ini hanyalah disebabkan karena keberkahan Al-Qur’an yang agung.

Al-Qur’an yang telah dimuliakan Allah atas semua kitab yang diturunkannya, mencakup kitab-kitab, menghapusnya, dan menjadi penutup baginya. Semua kitab terdahulu turun secara sekaligus. Sedangkan Al-Qur’an ini turun berangsur-angsur sesuai kejadian karena besarnya perhatian Allah terhadap Al-Qur’an dan Rasul yang menerimanya.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah untuk memakmurkan hati kita dengan kecintaan terhadap Al-Qur’an, mengagungkannya, dan mengamalkannya. Lalu menjadikan kita ahli Al-Qur’an yang mereka adalah orang-orang khusus bagi Allah Tabaraka wata’ala.    

(diringkas dari buku Fiqih Do’a dan Dzikir, karya Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr)

Penulis: Ade Abdurrahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here