BAHAYA DAI SESAT

Telah banyak dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya berdoa dan meminta kepada selain Allah merupakan perbuatan terlarang. Bahkan perbuatan seperti itu termasuk perbuatan kesyirikan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS. An-Naml: 62)

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ – وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan janganlah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah Subhanahu wa ta’ala menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 106-107).

Oleh karena itu sangat tidak pantas apabila Allah yang telah menciptakan manusia akan tetapi ia menyembah kepada selain Allah. Allah yang memberinya rizki akan tetapi ia meminta kepada selain Allah. Allah yang memberinya banyak kenikmatan akan tetapi ia mencari selain wajah Allah. Padahal sesembahan selain Allah tidak dapat memberi atau mencegah. Tidak juga dapat memberi manfaat ataupun mudharat.

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”. (QS. Al-Isra’: 56)

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’” (QS. Saba’: 22)

وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا ٱسْتَجَابُوا لَكُمْ  وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ  وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fatir: 13-14)

Permasalahan ini sangatlah jelas dan mudah dipahami, akan tetapi masih banyak manusia yang mengikuti para dai yang menyimpang. Syubhat-syubhat mereka masih kuat di pikiran para pengikutnya, sehingga kebenaran pun tersamarkan, dan menjadi indah perbuatan bid’ah itu (khususnya dalam masalah dzikir dan doa) menurut pandangan mereka. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jauh-jauh hari merasa khawatir atas ummatnya akan adanya para dai yang menyeru kepada kesesatan. Beliau bersabda,

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Yang aku takuti atas umatku hanyalah para pemimpin yang menyesatkan.” (Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud)

Apa yang dikhawatirkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist diatas telah menjadi kenyataan. Apabila kita melihat catatan sejarah, kita akan melihat betapa banyak dai-dai yang telah menjerumuskan manusia dalam penyembahan kepada selain Allah. Sebagian mereka mencari berkah di bebatuan dan pepohonan dan dan sebagian lainnya terkait hatinya ke pekuburan untuk berdoa, sebagian lainnya menyembelih dan bernadzar demi penghuni kubur.

Setidaknya terdapat tiga sebab kesesatan para dai sesat dan pengikutnya, yaitu:

Pertama, mereka berpegang kepada lafadz-lafadz mutasyabihat, dan meninggalkan lafadz-lafadz yang jelas. Kemudian lafadz mutasyabihat terseut mereka takwil dan palingkan dari makna sebenarnya. Sebagaimana Allah berfirman :

هُوَ ٱلَّذِى أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ مِنْهُ ءَايَٰتٌ مُّحْكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٌ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lainnya merupakan ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya.” (QS. Ali Imron: 7)

Kedua, riwayat-riwayat yang mereka katakan itu adalah hadist padahal dusta. Riwayat-riwayat tersebut merupakan hadist palsu yang dikarang oleh para dai sesat untuk menguatkan kesesatan mereka. Diantara contoh hadist palsu tersebut adalah:

لو حسّن أحدكم ظنه في حجر لنفعه الله به

“Apabila salah seorang dari kalian berbaik sangka kepada sebuah batu, Allah pasti akan memberikan manfaat melalui batu tersebut.” (Hadist tidak ada asal usulnya)

Ketiga, keadaan luar biasa yang dianggap sebagai karomah, padahal bantuan syaithan, dan  hikayat-hikayat yang diceritakan tentang orang-orang yang meminta-minta kepada kuburan fulan kemudian terkabulkan.

Sumber,

Fiqih Doa dan Dzikir Syaikh Abdurrozzaq

Website : rumaysho.com, muslim.or.id, almanhaj.or.id

Cianjur, 2 Oktober 2020

Oleh : Muhammad, M.Pd.I

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here