Apabila Engkau Meminta, Maka Mintalah Kepada Allah Subhana Wata’ala (Bag. Ke Dua)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”termasuk sebesar-besar kesemena-menaan, permusuhan, kehinaan, dan kerendahan, adalah berdoa kepada selain Allah Subhana wata’ala. Sungguh itu termasuk syirik. Allah S justubhana wata’ala tidak akan mengampuni dipersekutukan dengan-Nya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)

dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (١١٠)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Meminta kepada makhluk adalah haram tanpa ada kebutuhan yakni dalam hal-hal yang mampu dilakukan oleh makhluk, sebagaimana disebutkan  dari  Nabi Shalallahu ‘alahi wasalam dalam hadits-hadits shahih, tentang pengaharaman meminta baik untuk yang meminta sendiri maupun untuk orang lain. Misalnya hadits hakim dan qubaishah serta selain keduanya. Dalam hadist hakim bin hizam dia berkata ,” aku meminta kepada Nabi Shalallahu ‘alahi wasalam dan beliau memberiku, kemudian aku meminta kepadanya  dan beliau memberiku, setelah itu aku meminta padanya dan beliau memberiku, setelah itu aku meminta padanya dan beliau memeberiku. Lalu beliau bersabda:

يا حَكيمُ، إنَّ هذا المالَ خَضِرَةٌ حُلوَةٌ، فمَن أخَذه بطِيبِ نَفسٍ بُورِك له فيه، ومَن أخَذه بإشرافِ نَفسٍ لم يُبارِكْ له فيه، وكان كالذي يأكُلُ ولا يَشبَعُ، واليدُ العُليا خيرٌ منَ اليدِ السُّفلى

 “Wahai hakim, sesungguhnya harta ini bak buah yang segar lagi manis, dan barang siapa yang mengambilnya dengan tanpa ambisi (dan tamak atau atas kerelaan pemiliknya), maka akan diberkahi untuknya harta tersebut. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan penuh rasa ambisi (tamak), niscaya harta tersebut tidak akan diberkahi untuknya, dan ia bagaikan orang yang makan dan tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang berada di atas lebih mulia dibandingkan tangan yang berada di bawah. (HR. Bukhari: 1472 dan Muslim: 1035)

Hakim mengatakan, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan meminta harta seseorang sepeninggalmu hingga aku meninggal dunia.”

Dari ‘auf bin malik al-asyja’I dia berkata , “kami berada di sisi Nabi Shalallahu ‘alahi wasalam selama tujuh atau delapan hari. beliau berkata,”tidakkah kamu berbaiat?’ kami berkata,” kami telah membaiatmu wahai Rasulullah, atas apa kami mambaitmu wahai Rasulullah? Beliau bersabda:

Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,

قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»

Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).

Beliau ( Auf bi malik ) berkata,” sungguh aku telah melihat sebagian orang itu apabila cambuknya terjatuh maka dia tidak meminta seseorang untuk mengambilkan untuknya.” Diriwayatkan imam muslim.

Suatu ketika Qabishah bin Mukhariq al-Hilali curhat kepada Rasulullah perihal kehidupannya yang berat.

ﻋَﻦْ ﻗَﺒِﻴﺼَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻤُﺨَﺎﺭِﻕِ ﻗَﺎﻝَ ﺣُﻤِّﻠْﺖُ ﺣَﻤَﺎﻟَﺔً ﻓَﺄَﺗَﻴْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺴَﺄَﻟْﺘُﻪُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﻗِﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺄْﺗِﻴَﻨَﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻓَﺈِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻧَﺤْﻤِﻠَﻬَﺎ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻧُﻌِﻴﻨَﻚَ ﻓِﻴﻬَﺎ

Mulanya, Rasulullah meminta Qabishah untuk bersabar dan menunggu sedekah yang akan datang kepadanya. Karena tanggungannya yang begitu berat, Qabishah bertanya kepada Rasulullah dengan malu-malu.Tetaplah engkau berdiam disini, nanti kami yg akan memberesi tanggunganmu atau aku sekedar menolongmu

Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا قَبِيْصَةُ، إِنَّ الْـمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ : رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ : لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ ، فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْش ٍ، –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْـمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ ، سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (Shahih: HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa-i, dan selainnya). (berambung)

Oleh : Dzakwan Mukhtar Lc

Disadur ulang dari kitab fiqih do’a dan dzikir syekh Abdurrazzak Hafizhahullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here