Al-Witru (Yang Maha Ganjil)

 Nabi Dhallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

…. وَهُو وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“…. Dan Dia Maha Ganjil, Dia menyukai yang ganjil.” (HR. Al-Bukhari)

Al-Witru berarti Dzat yang esa, tidak ada sekutu dan tidak ada yang sama dengan-Nya, baik dalam dzat-Nya maupun dalam bagian lain, tidak layak bagi sesuatu pun disejajarkan dengan Allah.

Berdoa’ dengan nama “Al-Witr

Do’a Ibadah :

  • Rasul صلى الله عليه وسلم mengabarkan kepada kita tentang kecintaan Allah kepada witir:

لِلّهِ تِسْعٌ وَتِسْعُوْنَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الجَنَّةَ، وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الوِتْرَ

“Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidak seorang pun menghafalnya melainkan ia akan masuk surga, Dia (Allah) adalah ganjil dan menyukai yang ganjil.” (HR. Al-Bukhari: 6410)

  • Beriman kepada Allah yang maha ganjil berarti menafikan segala bentuk kesyirikan terhadap-Nya, baik itu syirik pada Dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Selain itu, iman kepada-Nya pun berarti mengesakan-Nya dengan segala keagungan, kesempurnaan, kemuliaan, kebesaran, dan kekuasaan-Nya. Termasuk mengsesakan Allah dalam penciptaan, dan pengaturan sesuai kehendak-Nya. Tiada tandingan dan kesetaraan bagi-Nya.

  • Dalam hitungan beramal, disunnahkan menggunakan jumlah yang ganjil dikarenakan kecintaan Allah kepada ganjil, juga untuk meneladani Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam shalat witirnya, makannya dan thaharahnya. Maka para ulama menafsirkan jumlah ganjil tersebut untuk merasakan keesaan Allah, maka ‘ganjil’ itu mengandung rahasia dan hikmah yang tidak dijelaskan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menjadi ujian bagi keimanan umatnya. Dan Nabi ber’wirtir’ dalam keadaan-keadaan berikut:

  • Apabila beliau shalat malam, maka beliau menutupnya dengan berwitir. Seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang cara shalat malam, lalu beliau menjelaskan:

مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“(shalat malam itu) dua raka’at dua raka’at, jika engkau khawatir shubuh tiba, maka witirlah dengan satu raka’at.” (HR. Al-Bukhari: 1137, Muslim: 1784)

  • Apabila seorang di hari idul fitri, disunnahkan agar ia memakan kurma dengan jumlah yang ganjil, sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

لَايَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأكُلَ تَمَرَاتٍ، وَيَأكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Beliau tidak pegi shalat ‘Idul fitri hingga beliau makan beberapa butir kurma, beliau memakannya dengan jumlah ganji.” (HR. Al-Bukhari: 953)

Beliau juga bersabda:

مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَراتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ

“Siapa yang setiap pagi makan tujuh butir kurma ‘ajwah, niscaya ia tidak dibahayakan oleh racun dan sihir pada hari tersebut.” (HR. Al-Bukhari: 5779, Muslim: 5460)

  • Apabila ia thaharah dengan istijmar[1],” maka disunnahkan menggunakan jumlah yang ganjil, sebagaimana sabda beliau:

إذاتوضأت فَانْتَثِر وإذااسْتَجْمَرْتَ فَأَوْتِر

“Jika engkau berwudlu’ maka semburkanlah air dari hidungmu, dan jika engkau istijmar maka ganjilkanlah.” (HR. At-Tirmidzi: 27, Ibnu Majah: 440, dishahihkan oleh al-Albani)

  • Apabila memandikan jenazah, Rasulullah mewasiatkan agar menggunakan jumlah yang ganjil, beliau bersabda kepada wanita-wanita yang memandikan jenazah putri beliau:

اغسِلْنَهابِالسِدْرِ وِتْرًا ثلاثًا أَوْخَمْسًا أَو أَكْثَرَ من ذلك إِنْ رَأَيْتُنَّ ذلك،وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شيْئًامِنْ كَافُوْرٍ

فَإِذا فَرَغْنَ  فَآذِنَّنِي

“Mandikanlah ia dengan air bercampur bidara tiga kali, atau lima, atau lebih jika kalian melihat perlu demikian, dan hendaklah kalian gunakan di akhirnya kapur atau sedikit kapur, jika kalian telah usai maka kabarkan kepadaku.” (HR. Al-Bukhari: 1263, Muslim: 2215)

Do’a Permohonan:

Tidak disebutkan nama Al-Witru dalam do’a yang ma’tsur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun ia merupakan nama yang digunakan untuk menyanjung dan mengagungkan Allah.

Referensi:

  1. The Miracle of Asmaul Husna: Muallifah
  2. Ensiklopedi Asmaul Husna: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-Badr

Penulis : Ade Abdurrahman

[1] Istijmar: Bersuci dari hajat besar atau kecil dengan menggunakan benda padat yang suci selain tulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here