Nama Allah Al-Khaliq ( Yang Maha Pencipta)

Amalan Yang Paling Mendekatan Diri kepada Al-Khaliq Pada Bulan Ramadhan

Disebutkan nama Al-Khaliq dalam al-Qur’an pada beberapa tempat di antaranya, firman Allah dalam Surat al-Hasyr/59:24:


هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maknanya Dialah yang bersendirian  dalam menciptakan semua makhluk, yang mengadakan semua yang ada dengan hikmahnya. Selain itu Dia menggambarkan rupa semua alam semesta dengan penuh kesempurnaan. Dia yang menciptakan dan mengadakan, dan menyususn semua makhluk ini dengan waktu yang tepat, dan menentukan  kadarnya dengan sebaik-baiknya, membuatnya dengan sesempurna perbuatan, kemudian dia memberi petunjuk kepada kemashlahatannya. Maka makna Al-Khaliq yaitu Allah Al-Bâri’, dan Al-Mushawwir sebagai mana yang dikatakan Ibnu Al-Qayyim rahimahullah.1 Adapun kedua nama ini penjelasannya pada tempatnya tersendiri.

Kemudian diantara konsekwensi nama ini Allah Al-khaliq bahwa keberadaan Allah sebagai sang pencipta semata adalah bukti yang jelas akan wajibnya manusia mengesakan dan menyerahkan semua ibadah kepada-Nya saja. Seperti dalam firman-Nya dalam Surat al-Hajj:73:

… إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

…. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.

Maka memurnikan tauhid adalah kewajiban yang paling besar, pokok dan dasar dibangun diatasnya amalan-amalan yang lainnya, diataranya shaum, shalat dan lain-lain. Maka jangan sampai seseorang shaum dan shalat namun memiliki keyakinan dan amalan yang membatalkan iman karena dengan melakukannya maka shaum, shalat dan sedekahnya tidak bermafaat disisi Allah bahkan Allah murka kepadanya karena telah memalingkan haq-Nya yang paling besar yaitu memurnikan ibadah dan tidak menyekutukan-Nya.

Doa ibadah dengan nama ini selain yang telah disebutkan diatas, do’a ibadah artinya yang wajib dilakukan bagi yang beriman kepada Allah Al-Khaliq dengan mengaharapakan ganjaran dari-Nya yaitu diantaranya tafakur dengan melihat makhluk-makhluk Allah sebagaimana perintahnya di dalam al-Quran Ali Imrân/3: 191:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Dan Juga mengambil pelajaran dan ibrah dengan melihatnya (makhluk) dengan tidak hanya sekedar menikmati dan menggunakan saja.2 dalam surat al-Ghâsyiyaah/88:17:

أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

 Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan.

 Diantaranya juga tafakur terhadap alam semesta, kemudian memikirkan bagaimana manusia diciptakan, berdoa dari keburukan diantara ciptaanya, merubah ciptaan Allah merupakan bentuk dari jalan-jalan setan untuk menyesatkan mereka sehingga mereka sengsara dan lain-lain.

Doa mas’alah permintaan yang berkaitan dengan nama yaitu membaca surat al-Falaq sebelum tidur, habis sholat, dan tempat-tempat yang dianjurkan dalam sunnah dengan surat perlindungan lainnya, begitu juga do’a ini yaitu do’a sajdah ketika sujud, adapun langsung dengan menyebut nama ini tidak terdapat dalam al-Qur’an, namun secara umum diajurkan berdoa dan tawasul dengan-Nya kemudian menyebutkan hajatnya. Wallahu’alam

Penyusun: Dzakwan Mukhtar BA

Sumber :

1. Fiqih Asma’ul Husana hal.150

2. The Miracle Of Asmaul Husna hal. 129.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here