الكريم

Allah Al-Karim Yang Maha Mulia

“Karim” memiliki makna terpuji, lawan dari kata tercela. Maka secara bahasa kata “karim” maknanya adalah sesuatu yang memiliki kedudukan dan nilai yang tinggi. Sebagaimana Allah berfirman:

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ

ia berkata (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. QS. An-Naml: 29.

Al-Khottobiy mengatakan bahwa Al-Karim maknanya adalah yang memiliki keberkahan, sehingga orang arab biasa menamakan sesuatu yang bermanfaat dan laus manfaatnya serta mudah untuk mendapatkan manfaatnya dengan kata “Al-Karim”.

Allah telah menyebutkan namanya Al-Karim di dalam Al-Qur’an, diantaranya:

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. QS. Al-Infithar: 6

وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. QS. An-Naml: 40.

Al-Qurtubi mengatakan bahwasanya Nama Allah Al-Karim yang artinya adalah Yang Maha Mulia, menunjukkan tiga sifat. Pertama menunjukkan sifat suka memberi, kedua sifat suka memafkan, ketiga sifat keperkasaan. Ketiga sifat tersebut ada pada diri Allah, bahkan Allah memiliki nama tersendiri dengan ketiga sifat tersebut. Sifat Allah suka memberi dan suka memaafkan tentu terkait dengan perbuatan Allah dan sesuatu yang diberi dan yang dimaafkannya, sedangkan sifat keperkasaan merupakan sifat dzatiyah Allah. Sehingga nama Allah Al-Karim ini diperselisihkan apakah termasuk nama yang menunjukkan sifat dzatiyah ataukah nama yang menunjukkan sifat perbuatan Allah.

Maka Allah akan senantiasa tersifati dengan Yang Maha Mulia yang apabila dimaknai dengan terhindarnya Dzat-Nya dari sifat kekurangan, serta tersifatinya Dzat-Nya dengan segala pujian maka nama Allah Al-Karim merupakan nama yang menunjukkan sifat dzatiyah Allah. Sedangkan apabila dimaknai Allah Al-Karim sebagai dzat Yang Maha Memberi kenikmatan serta pemberian, maka nama ini menunjukkan sifat perbuatan Allah.

Diriwayatkan bahwasanya Ibnul A’robiy menyebutkan enam belas makna untuk Nama Allah Al-Karim. Pertama, Dia memberi tanpa pamrih dan meminta imbalan. Kedua, Dia memberi tanpa diminta. Ketiga, Dia tidak membutuhkan perantara antara diri-Nya dengan hambanya. Keempat, Dia tidak memperdulikan apakah yang diberi adalah seorang mu’min ataukah kafir. Kelima, Dia senang pemberiannya diterima. Ketujuh, Dia memberi kemudian memuji orang yang diberinya, sebagaimana diriwayatkan bahwasanya Al-Junaid mendengar seseorang membaca ayat

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. QS. Shad: 44.

Maka Al-Junaid mengatakan “Subhanallah, Dia memberi kemudian memuji orang yang diberinya”. Maknanya adalah bahawasanya yang memberi kesabaran, dan yang membuat Nabi Ayyub bisa bersabar dengan ujian penyakitnya adalah Allah, namun kemudian justru Dia memuji hamba-Nya tersebut.

Ketujuh, pemberiannya meliputi hamba yang membutuhkan maupun yang tidak. Kedelapan, Dia tetap memberi karunia-Nya walaupun kepada orang yang mencela-Nya. Kesembilan, Dia memberi sebelum hambanya memintanya, sebagaimana Allah berfirman:

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. QS. Ibrahim: 34

kesepuluh, Dia memberikan pilihan dalam pemberian. Kesebelas, Dia akan memaafkan seluruh dosa apabila Dia berkehendak. Keduabelas, Dia akan memenuhi seluruh janji-Nya. Ketigabelas, diangkatnya seluruh kebutuhan hambanya kepada diri-Nya baik kebutuhan besar mapun kebutuhan kecil. Keempatbelas, Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang bertawassul kepadanya dan tidak akan meninggalkan orang yang bergantung kepada-Nya. Kelimabelas, Dia tidak menegur. Keenambelas, dia tidak menghukum tanpa sebab.

Diantara pengaruh Nama Allah Al-Karim ini, adalah bahwasanya Allah malu apabila ada seorang hambanya meminta kepada-Nya akan tetapi Dia tidak memberi apapun. Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa” HR Abu Dawud


Diringkas dari kitab An-Nahjul Asma fi Syarhi Asma Allah Al-Husna

Ditulis oleh seorang hamba yang membutuhkan ampunan Robbnya

Muhammad Abu Alif di Cianjur, 15 Des 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here